PASTRA (Paskibra Tetrasma), Salah Satu Sejarah SMA

Siang bImageolong ini bertapa di depan gedung 2 tiba – tiba ingat sebuah momen dimana masa SMA saya yang saya habiskan di sebuah sub-bid yaitu sub-bid PASTRA (Paskibra Tetrasma). Saat teringat karena kemarin Sabtu, 16 Juni PASTRA merayakan HUT nya, sayang saya tidak bisa hadir karena terpisahkan jarak. Pasti pada bingung dengan pernyataan saya ini, dan pasti berpikir “mana ada anggota paskibra tapi badannya kecil ?”. Tapi disini konteks paskibra adalah ekstra kurikuler yang ada di sekolah jenjang SMA saya. Kegiatan dari PASTRA sendiri tidak hanya baris – berbaris saja.

Seperti sekolah – sekolah SMA lainnya, untuk menyambut siswa – siswi baru kakak kelas menyiapkan sebuah ritual yang dianggap ngeri, ya itulah MOS (masa orientasi studi). MOS yang saya jalani selama 3 hari, saya menjalaninya dengan keadaan biasa saja. Disentak, diberi tugas dan menaati segala peraturan yang dibuat bukanlah hal yang berat bagi saya. Setelah MOS saya selesai, di hari keempat ada agenda lanjutan yaitu demo sub-bid, semacam pameran untuk semua sub-bid dan menjaring anggota baru dari siswa – siswi baru.

Awalnya saya diajak Mbak Jo (kakak kelas, kelas 12) untuk menjadi anggota PANSUS (Pasukan khusus) 17 Agustus guna mempersiapkan perangkat upacara HUT kemerdekaan Indonesia. Saat itu anggota PANSUS beranggotakan sekitar 20 orang lebih tapi lama – kelamaan berkurang menjadi 16. Seleksi alam yang akhirnya membuat mereka gugur dan berpikir ulang untuk tidak melanjutkan proses ini. Dengan latihan sekitar 1 bulan penuh, akhirnya upacara dilaksanakan. Sempat ada kendala karena pagi hari 2 orang anggota PANSUS mengalami kecelakaan dan tidak bisa mengikuti upacara.bakti sosial, diklat (pendidikan dan latihan). pameran untuk sub-bid dan menjaring siswa – siswi baru menjadi anggota sub-bid itu sendiri. Nah di saat itu saya ingat Mbak Jo (Kelas 12) mengajak saya untuk bergabung. Saya saat itu berpikir bahwa badan saya kecil dan tidak cocok untuk mengikuti kegiatan ini. Awal mula saya mencoba saja, dan saya bergabung pada PANSUS (pasukan khus

Berakhirnya PANSUS adalah awal mula keluarga ini. Saya memilih untuk menjadi anggota PASTRA. Setelah bergabung, saya mulai mengenal bagian keluarga dari PASTRA, alumni dan kakak kelas. Bahkan untuk memanggil teman satu angkatan, saya menyebutnya dol (dolor) yang berarti saudara.

Untuk menjadi anggota keluarga PASTRA, anggota baru wajib mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) lencana. Diklat ini diadakan di Komando Latihan Marinir, Kedurus. Saya lulus bersyarat dan untuk menjadi lulus murni saya harus mengadakan sebuah acara. Saya memilih untuk mengadakan acara baksos di panti jompo. Disana saya belajar bagaimana berkoordinasi, manajemen dan kerja sama tim. Akhirnya acara saya sukses dan saya dinobatkan sebagai anggota PASTRA.

Setelah resmi menjadi anggota PASTRA, rutininitaspun dimulai. Latihan di lapangan, materi di kelas dan sampai masalah – masalah keseharian menjadi ilmu yang saya serap. Pada masa saya menjadi anggota baru saya pernah mengikuti 2 kali lomba, PPI (Purna Paskibra Indonesia) dan SMA 2. Sayang PASTRA belum memperoleh kemenangan murni baris – berbaris. PASTRA melatih mental saya melalui treatment yang sudah dirancang baik oleh alumni dan kakak kelas saya. Gemblengan fisik lari, push up, back up, pull up sudah menjadi makanan saya sehari – hari. Anggota PASTRA juga diwajibkan untuk menaati segala peraturan yang ada. Sehingga saya diwajibkan untuk disiplin dan berpakaian rapi. Banyak yang meledek saya, tapi saya tidak peduli karena ini juga untuk diri saya bukan untuk diri mereka. Saya masih ingat lagu ketika di lapangan:

Bangun pagi – pagi menuju Tetrasma

Untuk mengikuti latihan paskibra

Disinilah kami dilatih dan ditempa

oleh senior perkasa

Wahai seniorku betapa tajam matamu

Wahai seniorku betapa kejam dirimu

Tak tahan rasanya untuk segera pulang

Latihan belum usai

Seiring berjalannya waktu, kaderisasi tidak berhenti sampai disini. Untuk menggantikan kakak – kakak kelas yang membimbing saya, saya harus menjalani proses diklat kedua kalinya. Diklat ini diadakan di Pusdik Brimob, Watukosek. Diklat ini berorientasi melatih kepemimpinan dan mental sehingga jika lulus akan mendapatkan topi sebagai simbol dan berhak menjadi kandidat kordinator PASTRA, Provos atau Komandan Latihan. Sebelum mendapat jabatan diatas, saya dan teman – teman yang memiliki topi harus orasi di hadapan keluarga PASTRA untuk menjabarkan visi misi dan program kerja masing – masing.kan untuk mereka

Setelah orasi, saya mendapatkan jabatan provos. Namun sayang itu harus saya tinggalkan karena saya juga terpilih sebagai ketua OSIS. Waktu saya di OSIS saya sering meninggalkan PASTRA, saya hanya bisa berkontribusi pada PASTRA ketika berurusan dengan birokrasi sekolah. Saya merasa hutang budi kepada PASTRA yang sudah mendidik saya. PASTRA selalu mengajarkan kepada anggotanya untuk menjadi pemimpin dan “lebih” dari orang lain. Lebih disini maksudnya adalah lebih dari segalanya, entah prestasi, mental ataupun yang lainnya.

PASTRA JAYA

Prayogo Kurnia (Pastra Angkatan XVIII)

Uci, Andrena, Ica, Hami (Kecap), Ape, Ayu, Navira (Tiwul), Eka, Linda, Norma, Rahayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s