Fabel Serigala

Nyanyian burung berkicau menyambut datangnya pagi di sebuah hutan rimba, hutan yang asri dan masih perawan dengan jajaran pepohonannya dengan lebatnya daun – daun. Di hutan rimba itu hiduplah seekor serigala bersama orang tua dan teman – temannya. Setiap hari, sang serigala berburu guna mengisi perutnya yang lapar. Yoda, nama serigala itu. Suatu ketika serigala hita ini berpikir untuk pergi dari komunitasnya, ia berpikir bahwa selama ini ia lemah, hanya bisa mendapat makanan hasil mangsaan dari orang tuanya.

“Haruskah aku mendapat daging dari mangsaan ayahku ?Kapan aku bisa melakukannya sendiri ?” sang serigala  merenung.

Di tengah – tengah ia merenung, tiba – tiba hadir kawan serigala bernama Geri dan Suja. Kehadiran mereka mengejutkan Yoda. Perasaan Yoda yang mengganggu ini lalu diluapkan kepada kawan – kawannya.

“Hey sahabatku, aku gundah. Kapan aku bisa bertarung dan memangsa rusa dengan usahaku sendiri ?”, ujar Yoda

Geri menjawab, “Tenang saja kawan, nikamti saja laah, kau kan tinggal makan saja. Biarkan yang berlari ayahmu, kau tinggal makan saja”

“Kita tak usah memperdebatkan itu, ayo kita naik ke gunung dan kita teriakan suara kita untuk menunjukan kekuatan kita !”, salut Suja.

Mereka bertiga lalu menuju gunung dan berteriak. Dengan kencang mereka berteriak “Auuuuuuuuuuuuu !!!! Auuuuuuuuuuu !!!”, berulang kali mereka melakukannnya. Setelah lelah, mereka kembali ke rumah masing – masing dan tidur.

Keesokan harinya, kegundahan Yoda tak terbendung lagi. Ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi merantau dan mengasah kemampuan berburunya. Beruntung, Yoda diizinkan. Kedua orang tuanya berpikir bahwa Yoda bisa menjaga diri dan melindungi dirinya dengan taring yang tajam serta bulu yang tebal. Orang tuanya hanya menasihati agar Yoda dapat menjaga diri dan kembali dengan cepat. Setelah mendapat izin, Yoda bergegas pergi. Sebelum pergi, ia juga berpamitan kepada dua kawannya Geri dan Suja. Kedua kawanya itu sebenarnya tidak rela atas keputusan Yoda, tapi keinginan Yoda yang kuat tidak bisa mengalahkan keinginan kedua kawannya itu. Akhirnya dengan berat hati mereka memberikan salam perpisahan kepada Yoda.

Salam perpisahan dan restu telah didapatkan. Dengan penuh harapan ia bisa kembali dan menjadi serigala tangguh. Dengan kemauan yang kuat ia mulai berjalan mengikuti instink dan nalurinya sebagai serigala. Hutan lebat itu bukan merupakan ancaman baginya, tapi saat ini ia sendiri, tidak bersama orang tuanya dan tidak dengan kawannya Geri dan Suja, ia merasa kesepian dan sendirian.

Selama perjalanan, serigala ini masih memangsa hewan – hewan dan memakan dagingnya, kali ini ia harus berhadapan dengan ular, dengan sigapnya ia mampu melumpuhkan ular itu dan mencernanya dalam perut. Serigala ini sering berhenti di aliran sungai untuk melepas dehaga, tak jarang pula ia memakan ikan – ikan di sungai itu. Lidahnya biasa memakan daging rusa empuk dan besar, karena pilihan jalan hidupnya sendiri ia harus merelakan kenikmatan itu dan memakan daging yang lebih kecil dan kadang memakan bangkai bekas buruan dari hewan lainnya. Di sela – sela perjalanannya, ia meraung setiap malam untuk menunjukan kekuatannya.

Tak terasa perjalanan Yoda. Ia kini menemukan tempat dimana banyak hewan lainnya berkumpul, hutan yang dipilih serigala ini lebih dekat dengan pemukiman manusia. Di tempat ini ia menemukan teman baru gajah, monyet, dan kancil. Teman – teman baru ini awalnya tidak menyambut baik kehadiran sang serigala, mereka takut jika suatu saat serigala ini memangsa mereka untuk dijadikan santapannya. Ketakutan ini tidak lama, sang serigala menjelaskan bahwa taring tajamnya tidak untuk menyakiti kawan – kawannya itu.

“Hey, jangan takut kawan, aku tidak akan memangsa kalian, maukah kalian berteman denganku ?”, Yoda sang serigala berkata

“Nguk nguk nguk, yakin kah ?Taringmu terlalu tajam, kalau kau lapar aku akan mati dan masuk ke perutmu nanti”, sahut sang monyet

“Pergi saja kau, atau kau akan kuinjak dengan kaki besarku ini ?”, gajah mengancam

“Tidak, aku ingin belajar hidup dengan kalian, aku ingin kalian menjadi temanku”, sang serigala menjawab.

Si kancil yang dikenal cerdik tidak berkata apa – apa karena melihat fisik sang serigala. Mereka bertiga akhirnya menerima serigala menjadi teman mereka.

Dengan waktu singkat, mereka berempat menjadi sahabat. Namun ada yang membuat mereka terkadang tidak bisa sinkron. Serigala berbeda dengan mereka yang bisa memakan tumbuh – tumbuhan dengan mudah, sedangkan sang serigala harus berusaha keras berburu rusa untuk bisa makan. Tak jarang juga serigala tidak makan seharian karena tidak menemukan rusa, dan ia hanya bisa memakan ikan di sungai yang tempatnya berdekatan dengan rumah sahabat barunya itu. Setiap malam, sang serigala masih melakukan kebiasaannya itu, yaitu pergi ke tempat yang tinggi dan berteriak “auuuuuuuu !!!, auuuuuuuu!!!”. Untungnya keempat sahabatnya itu tidak merasa terganggu dan malah berterimakasih karena menandakan bahwa hari sudah malam.

Hari demi hari mereka jalani seperti biasanya. Mereka mencari makan bersama – sama, setelah makan mereka bermain dan tak jarang juga bermain di sungai. Sang gajah yang memiliki belalai dengan mudah bisa menyedot air dan menyemburkannya kepada mereka. Hanya saja, sang monyet takut dengan air. Kawan – kawan yang lainnya tidak diam, mereka menceburkan sang monyet ke air.

Suatu ketika menjelang malam, sang monyet tidak kembali ke tempat mereka biasanya istirahat. Serigala, gajah dan kancil pun binggung dan berkeliling hutan untuk mencarinya. “Monyeeettt !!!, Nyet, Monyeeeett !!!!” teriakan mereka. Haripun sudah malam, dan mereka istirahat, malam itu serigala berteriak sekuat tenaga untuk berteriak dan memeberi tanda kepada sang monyet bahwa serigala bersama sahabatnya mencarinya.

Pagi bersinar, matahari sudah mulai beranjak naik. Serigala yang tidak bisa tidur dengan nyenyak bangun lebih awal diantara kawan – kawannya yang lain. “Srek, srek, srek”, serigala mendengar suara jejak langkah di hutan. Ia penasaran dan mengikuti jejak kaki itu. Perlahan lahan ia mengikuti sumber suara itu. Ia sangat terkejut ketika melihat sumber suara itu, rupanya suara itu adalah segerombolan pemburu lengkap dengan panah yang siap ditembakan kepada hewan agar terbius. Serigala melihat sahabatnya sang monyet berada dalam kotak kurungan dengan keadaan lemas tak berdaya akibat bius dari sang pemburu itu.

Melihat kondisi seperti ini, serigala tak kuasa menahan amarahnya dan ingin melepaskan sahabatnya monyet itu. Dengan sigap ia menyerang salah satu permburu itu, namun usahanya sia – sia karena pemburu itu tidak sendirian bersama 4 orang lainnya. Salah satu pemburu berminat untuk memburu serigala dan dijadikan hiasan di rumahnya. Menyadari kemampuan serigala tidak seimbang, ia bergegas pergi dan bermaksud untuk memberitahukan keadaan ini kepada gajah dan kancil.

Serigala berlari sekuat tenaga untuk cepat bertemu dengan sahabat – sahabatnya itu. Dengan lemas, ia menjelaskan kepada gajah dan kancil. “Hey !!!, aku melihat monyet sedang ditawan oleh para pemburu”, Sambil terengah – engah serigala berkata pada gajah dan monyet. “Srek, srek, srek”, suara para pemburu berlari. Para pemburu itu dapat mengikuti jejak serigala. Melihat mereka berkumpul, pemburu ingin mereka semua untuk bisa dibawa ke kota untuk dijadikan bahan sirkus atau dijual sebagai hiasan rumah. “Pergilah kalian ke balik bukit, aku akan mengalihkan perhatian mereka dan menyerang mereka, pergii !!!”, ujar serigala. Gajah dan kancil berlari dengan kencang, gajah sempat terkena panah tapi kulitnya yang tebal tidak dapat ditembus sebuah busur panah yang terbuat dari bambu itu.

Serigala menghalangi para pemburu itu untuk bisa menangkap kawan – kawannya itu. Sesekali ia berteriak “Auuuuu, auuuuu, ggrrrrrrrr” sambil menunjukan taring panjangnya. Ia juga menyerang para pemburu itu. Serigala berlari ke arah yang berlawanan dan para pemburu mengikutinya. Hari sudah malam, serigalapun kelalahan. Merasa ia aman, ia sempat tertidur sejenak. Setelah terbangun, ia berteriak “Auuuuuu, auuuuuuu”. Suara kencangnya itu memancing para pemburu untuk bisa menahlukan serigala. Serigala tidak menyadari bahwa ternyata para pemburu sedang membidiknya. “Sreeeetttt”, busur panah yang tidak mengenai serigala melewati tubuhnya. Lalu sang serigala berlari masuk hutan. “Sreeettt, crooott”, salah satu busur panah mengenai tubuh serigala. Serigala terus berlari memasuki hutan dan rawa. “grrrrrrrrr, heh heh heh”, serigala menahan rasa sakit dan terengah – engah kelelahan. Tanpa menoleh belakang ia terus berlari.

Serigala terus berlari menuju rumah orang tua dan kawan – kawan serigalanya. Bolak balik terjatuh dan merintih tapi ia terus berlari untuk menyelamatkan diri dan berharap bisa menyelamatkan teman – temannya nanti. Darahnya yang terus bercucuran tidak menurunkan kecepatan dan kegesitan larinya. Di hutan ia tak menyangka bertemu kawan lamanya Geri dan Suja. “Yoda, ada apa dengamu ?kenapa kau berdarah ?”, sahut Geri. Yoda tidak menjawabnya tapi terus berlari sekuat tenaganya. Geri dan Sujapun mengikuti Yoga, ketiga serigala ini akhirnya kembali kerumahnya.

Setelah sampai, orang tua Yoda terkejut melihat kondisi Yoda. Mereka berusaha mengobati Yoda. Disela – sela ia diobati, Yoda menceritakan bahwa ia memiliki sahabat monyet, gajah dan kancil, saat ini Yoda sedang diburu dan butuh pertolongan. Geri dan Suja mengumpulkan para serigala untuk mencari tempat aman dan mengatur strategi untuk menyerang para pemburu. Yoda mengajak kawan – kawannya untuk pegi ke belakang bukit melindungi gajah dan kancil.

Pemburu yang dinanti itu akhirnya datang, mereka mengintai dan senang sekali bisa melihat uang, ya uang hasil penjualan buruan serigala. Lalu serigala – serigala itu berlari ke arah bukit yang diberitahukan oleh Yoda. Para pemburu itu siap memanah dan mengejar segerombolan serigala itu.

Sampai di balik bukit itu, Yoda bertemu dengan gajah dan kancil. Gajah dan kancil takut melihat banyak serigala. Yoda menjelaskan kepada mereka dan mereka tidak takut lagi. Langit mulai gelap, dinginpun meyerang. Serigala – serigala itu tidak merasa dingin dengan bulunya yang tebal, tapi tidak bagi para pemburu. Mereka meletakkan tas mereka dan untuk mengambil jaket. Tiba – tiba terdengar “Auuuuuuuu !!!!” suara Yoda yang lantang, Yoda langsung menyerang para pemburu itu diikuti oleh kawan – kawannya yang lain. Taringnya yang tajam mencabik – cabik daging para manusia itu, cakarnya menyayat tubuh pemburu dan darah segar mengalir dari tubuh para pemburu itu. Daging manusia itu menjadi makan malam untuk Yoda dan kawan – kawannya.

Akhirnya para pemburu itu mati dan monyet dapat diselamatkan. Gajah, monyet dan kancil kembali ke tempat mereka. Yoda kembali kepada kehidupannya bersama serigala – serigala yang lain dan berpisah dengan gajah, kancil dan monyet. Yoda telah menjawab keraguan terhadap kekuatannya, setelah kejadian itu Yoda menjadi serigala tangguh. Yoda tidak hanya bisa membunuh seekor rusa tapi juga bisa memimpin kawan – kawannya untuk melawan para pemburu yang mengusik kehidupan mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s