Pendatang Baru, Kader Baru

Beberapa hari lalu saya berpatisipasi dalam rangka sambutan mahasiswa baru atau yang disingkat SAMARU di UNS. Momen ini mengingatkan saya pada beberapa hal yang juga saya alami ketika saya memiliki dunia baru, ketika masuk menjadi siswa SMA dan juga mahasiswa baru. Namun ada 1 hal yang menarik dari beberapa hal tersebut, subtansinya sama yaitu ajang “mencari kader”. Ini pengalaman pribadi saya, juga saya uraikan menurut sudut pandang saya.

Ketika awal masuk SMA, sama seperti siswa lain yang tidak tau menau mengenai sekolah dan dunia yang baru. Sama halnya di kuliah, SMA ada sebuah ritual yang harus dijalani oleh siswa – siswi baru, yaitu MOS. Disini saya selalu diingatkan oleh para panitia MOS dengan kata – kata “Jangan pernah memberi nomer hape kalian ke siapapun !”. Saya penasaran dengan hal tersebut. Di sela – sela waktu istirahat datang seorang kakak kelas mengajak kenalan dan meminta nomer hape saya. Saat itu saya tidak memberikannya. Setelah MOS selesai, ada agenda yang dinamakan demo subbid (ekstra kurikuler) semacam display UKM di kampus UNS. Mulailah para anggota subbid dari sekolah saya bergerilya untuk mencari kader, mulai dari yang mengajak secara halus sampai mengajak memaksa.

Setelah lama bersekolah dan berkecimpung sebagai anak SMA, saya memilih satu subbid yaitu PASTRA (Paskibra Tetrasma) dan followers OSIS. Disela – sela itu saya sering melihat banyak kakak kelas saya yang bergerilya masuk ke kelas – kelas dengan pola yang sama. Rupanya mereka adalah anggota subbid SKI. Subbid ini tidak banyak disukai oleh sebagian subbid lainya di SMA saya, namun didukung oleh guru – guru. Disini saya mulai memiliki mind set tersendiri tentang subbid ini. Dengan merebut simpati dari guru – guru, kegiatan dari SKI didukung bahkan sempat ada isu “semua diwajibkan mengikuti SKI”, dan setiap pagi selalu ada kepala sekolah saya yang mengaji di speaker dengan alasan untuk membentuk moral. Saya protes, menurut saya moral itu tidak hanya berasal dari agama saja dan saat itu saya beranggapan bahwa siswa lebih bisa hafal ayat – ayat dibandingkan hafal lagu nasional. Saya sudah memprediksi bahwa mind set saya yang terdoktrin tentang nasionalisme tidak akan bisa bersatu dengan idiologi agama mereka yang kuat, terlebih saya lahir dan besar di tengah keluarga yang pluralis. Aksi protes saya waktu itu adalah lobying cara baik – baik ke kepala sekolah dan hingga cara kasar mencabut kabel speaker, mengusir alumni SKI, bahkan membuang proposal mereka saat saya menjabat ketua OSIS di SMA.

Saya sempat menemukan base camp mereka di luar sekolah, saya sudah mendeteksi mereka. Saat saya menjadi senior, saya menggalang masa dengan kawan – kawan yang lain untuk membendung pergerakan mereka. Baik mulai dari MOS hingga mereka masuk – masuk ke kelas. Dengan power yang saya miliki, saya bisa melakukan itu. Dengan aturan yang saya dan kawan – kawan buat, kami bisa membendung pergerakan mereka dan saya nilai hal ini bisa berhasil. Prakteknya adalah memasukan kader mereka ke OSIS dan Subbid lainnya, ini dilakukan untuk bisa menguasai semua lini di sekolah.

Sekarang saya menjadi mahasiwa di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Sama halnya seperti saya menjadi mahasiswa baru, kalau di SMA subbid SKI yang juga memiliki base camp diluar tapi kalau di dunia mahasiswa adalah organisasi eksternal. Saya mendapatkan banyak selebaran saat samaru. Sekarang, saya sudah lebih tau sedikit tentang organisasi ini. Dasar hukum yang digunakan untuk menghalau mereka juga dinilai kurang memadai. Beberapa waktu lalu, saya mendapati beberapa anggota organisasi eksternal sedang “membuka praktek” untuk mencari kader. Sama seperti saya SMA, mereka meminta nomer hape new comers untuk berkomunikasi, membantu tugas MOS/OSPEK, bahkan membocorkan tugas dari panitia yang panitianya juga anggota mereka. Tujuannya sama, membuat new comers itu menjadi kader mereka.

Atribut mereka memang tidak boleh berada di lingkungan kampus. Mereka mencari celah dari SK Dikti dan SK Rektor UNS dengan memasang spanduk ucapan selamat datang di gerbang kampus. Bahkan ada salah satu organisasi yang berdebat dengan PD III FH untuk menclearkan masalah ini, mereka mencari celah di dasar hukum yang bisa untuk menghalau mereka.

Yang menjadi perhatian saya dari saya SMA dan mahasiswa adalah satu, cara bergerilya mereka mencari kader. Maksud saya disini adalah biarkan para pemuda – pemuda bangsa ini mencari tau dengan caranya sendiri dan menentukan masa dimana mereka nantinya akan memilih salah satu tempat yang akan mereka jadikan menimba ilmu (lain) nantinya. Seperti halnya kampanye pemilu, ada masa tenang dimana konstituen akan berpikir jernih dengan hati dan pikirannya sehingga nanti pada masa hari H mereka mantap memilih yang mana.

Hidup Mahasiwa !

Salam Pemuda !

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s