Kenapa #Aksi “Menolak Lupa SK Uang Kuliah Tunggal, Transparansi Harga Mati”

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

Soe Hok Gie 1942 – 1969

Tulisan ini secara umum untuk menggambarkan alasan mengapa saya aksi. Masyarakat umum mengenal aksi sebagai demonstrasi, sesungguhnya aksi tidak hanya demontrasi tetapi ada juga aksi diam diri, aksi menggunakan simbol, aksi teatrikal, membuat film dan aksi – aksi lainnya sesuai dengan perkembangan jaman. Kali ini saya tuliskan aksi saya kemarin Jumat, satu Februari 2013 di boulevard gerbang depan UNS. Kemarin Jumat, saya bersama teman – teman Dagri Se – UNS menggelar aksi bertemakan “Menolak Lupa SK Uang Kuliah Tunggal, Transparansi Harga Mati”. Namun sayang pada hari H hanya empat bendera BEM yang berkibar : BEM FH, BEM FE, BEM FT dan BEM FKIP. Saya sadar apa yang kami lakukan sedikit ekstrem tapi tidak lebih ekstrem dari kawan – kawan di Universitas Soedirman yang menolak sistem uang kuliah tunggal (UKT).

Mengapa saya aksi ? karena saya dan beberapa teman menilai kejanggalan dari penerapan sistem UKT. Pertama, kebijakan UKT mendadak dan tidak ada sosialisasi merata terhadap fakultas – fakultas di UNS. Ini terbukti dari perubahan biaya kuliah di situs spmb.uns.ac.id pada saat penerimaan mahasiswa baru, padahal sebelumnya biaya kuliah tercantum biaya pengembangan institusi (BPI) dan sumbangan penunjang pendidikan (SPP).

Kedua, adanya selisih angka dalam perhitungan uang pembayaran contoh SNMPTN di FH : Angkatan 2011 BPI (Rp.7.100.000,-) + SPP 8 semester dan uang lain – lain (1.200.000,- x 8) = Rp. 16.700.000,- sedangkan angkatan 2012 adalah UKT per semester Rp 2.500.000,-. Jika dikalikan delapan maka hasilnya Rp. 20.000.000,-. Terjadi selisih Rp. 3.300.000,- per delapan semester per mahasiswa. Itu jika dibandingkan dengan angkatan 2011. Adapun perbandingan angkatan 2012 rencana sebelum UKT dan setelah UKT. Sebelum UKT : tercantum BPI Rp. 5.000.000,- dan SPP Rp. 1.250.000,-. Jika dijumlahkan delapan semester total Rp. 15.000.000,-. Terjadi selisih Rp 5.000.000,- per delapan semester per mahasiswa bukan ?!

Ketiga, tidak adanya transparansi penggunaan bantuan operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN) dan SPP. UNS mendapatkan BOPTN 26 M dari pengakuan merugi 19 M, dan tahun ini mendapatkan 43 M. Sebelum melaksanakan aksi saya sudah pernah mengirimkan surat ultimatum agar ada respon dari rektorat akhirnya surat ini dibalas dengan audiensi dan saya katakan audiensi itu hanya omong kosong karena di setting pada hari Jumat 18 Januari 2013 pukul 09.00 tanpa dihadiri rektor dan jajarannya sebagai pemangku kepentingan, hanya dihadiri oleh staff ahli rekor ! Sedangkan rencana awal adalah setelah solat Jumat dan dihadiri rektor. Hasilnya ? tidak begitu siknifikan, seperti prediksi saya : jawaban normatif dan hanya menerima rekomendasi dari Dagri BEM Se-UNS

Keempat, tidak adanya SK Rektor mengatur tentang UKT yang menyebabkan ambigu atau tidak meratanya pengetahuan masing – masing pemegang kepentingan di lingkungan fakultas sehingga menyebabkan kerancuan. Hal ini dapat terlihat ketika audiensi, Ana salah satu anggota lembaga pers mahasiswa (LPM) membandingkan FK dan salah satu prodi di FKIP dimana salah satu prodi di FKIP itu para dosen membayar petugas kebersihan dengan patungan, sedangkan di FK sudah termasuk cost structure analisist (CSA). CSA merupakan uang yang dibutuhkan fakultas yang mana didapatkan dari mahasiswa.

Kelima, tidak adanya SK Rektor mengatur tentang penundaan keringanan SPP sistem UKT. Penundaan dan keringanan biaya kuliah sempat menjadi perhatian mengingat biaya kuliah dari UKT adalah total biaya selama delapan semester. Namun, sudah ada jaminan bahwa mahasiswa angkatan 2012 menggunakan SK Rektor nomor 557 tahun 2004. Memang sedikit membuat saya lega atas peryataan ini tapi bagi saya ini sama halnya orang melakukan pelecehan seksual dan divonis oleh hakim menggunakan UU narkotika !

Isu UKT di beberapa kampus seperti Unsoed dan Undip menjadi berkembang setelah melakukan aksi besar, di UNS untuk aksi saja hanya beberapa BEM yang turun. Saya mengapresiasi teman – teman seperjuangan yang merelakan waktu liburnya untuk tinggal di sekre, mengikuti forbes, panas – panasan dan hujan – hujanan saat aksi, dibuntuti polisi, protokoler UNS, satpam UNS dan bahkan mendapat ancaman dari Dekanat. Ini bukan akhir dari perjuangan, tapi salah satu bentuk perjuangan. Walaupun setelah ini akan ada pemira, saya berharap Dagri sebagai pengawal kebijakan kampus akan tetap konsisten dengan ini. Dan siapapun nanti, partai apapun semoga ada politic will untuk tetap memberi tanda khusus terhadap kebijakan UKT karena ini menyangkut bangsa kita (baca : pendidikan).

Hidup mahasiswa !

Hidup rakyat Indonesia !

Salam Garuda !

Pers realease : http://bemfssruns.com/press-release-menolak-lupa-sk-uang-kuliah-tunggal/#more-1487

Depan Gerbang UNS

Depan Rektorat

 

Masa aksi hujan – hujanan berjalan ke arah rektorat

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s