Kronologi Dibidik Kabag Mawa FH UNS

“Tugas kita sebagai generasi baru adalah menggantikan generasi tua yg mengacau”

Soe Hok Gie 1942 – 1969

Kewajiban AMTAda benarnya memang ketika kita mendengar kalimat tersebut. Anak muda identik dengan sesuatu yang cepat dan tanpa bertele – tele. Bagi saya ini adalah keseimbangan dimana anak muda memang memiliki peran untuk mengawasi perilaku dari generasi tua diatasnya. Saya merasakan betul apa yang dimaksudkan oleh Gie, terutama bagi mahasiswa yang berkecimpung di dunia pergerakan ataupun organisasi kemahasiswaan.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari “Kenapa #Aksi Menolak Lupa SK Uang Kuliah Tunggal, Transparansi Harga Mati”. Tulisan tersebut merupakan perjuangan melawan pihak birokrat rektorat, sedangkan kesempatan ini untuk melawan pihak birokrat di lingkungan Fakultas Hukum. Merupakan sebuah argumentasi sudut pandang saya dimana saat ini isu ini dialihkan dengan topik “Yogo, mahasiswa FH tidak mengenal struktur birokrasi”.

Berawal dari UKT dan AMT

Kementerian Dalam Negeri BEM FH UNS (Dagri) merupakan salah satu bagian dari BEM FH yang memiliki tugas untuk mengawal kebijakan kampus. Salah satunya yaitu untuk mengawal kebijakan UKT. Kebijakan UKT ini merupakan kebijakan dari pihak rektorat dan dijalankan oleh seluruh bagiannya termasuk fakultas. Dalam sistem UKT sudah dijelaskan bahwa semua biaya kuliah mahasiswa dijumlahkan dan dibagi menjadi delapan sehingga muncul angka SPP, dengan bahasa lain mencicil total biaya kuliah. Dari sini kesimpulannya adalah tidak boleh lagi adanya penarikan uang kepada mahasiswa! kecuali tidak berhubungan dengan biaya kuliah, misalnya mahasiswa mengikuti seminar, diklat ormawa, pelatihan dan kegiatan lainnya yang tidak diselenggarakan fakultas.

Oktober 2012 bidang kemahasiswaan fakultas hukum menyelenggarakan program tahunannya yaitu achievement motivation training (AMT). Bagian kemahasiswaan sebagai fasilitator menjadi tempat “penjualan tiket”. Publikasi kegaitan ini ditempel di papan pengumuman. Disana dituliskan kata “wajib dengan biaya Rp. 10.000,-“. Mahasiswa 2012 yang notabennya mahasiswa baru langsung merespon dan mendaftarkan diri, mungkin karena ada embel – embel wajib. Tentu ini memicu protes dari Dagri BEM FH. Pihak kemahasiswaan beralasan bahwa uang ini untuk menjamin mahasiswa datang dan akan dikembalikan. Tapi mahasiswa 2012 tidak semuanya tau bahwa ini merupakan pelanggaran karena memungut biaya tambahan dan tidak mencantumkan kata “untuk dikembalikan”.

Hingga akhir November, pengembalian uang juga tidak kunjung dilakukan. Alasannya menunggu BOPTN turun. Dari sini mulai terkuak pokok permasalahannya bahwa tidak tersedia uang untuk kegiatan AMT hingga muncul istilah “ya kita utang dulu ke mahasiswa”. Suatu pernyataan konyol bukan?! Kenapa AMT tidak diundur saja hingga BOPTN turun dahulu? Bagaimana jika yang melakukan hal itu adalah ormawa ? Bisa jadi bidang kemahasiswaan akan memberi sanksi kepada ormawa tersebut. Agar fair, Dagri mengkonfirmasi keadaan ini ke Pembantu Rektor II selaku salah satu stakeholder UKT, kebetulan juga guru besar FH Prof. Dr. Jamal Widodo, S.H.,M.Hum. (Prof Jamal). Rupanya permintaan kami diamini oleh beliau bahwa tidak boleh lagi ada biaya tambahan. Disamping PR II, kami juga konfimasi ke bidang II FH, PD II Dr. I Gusti Ayu KRH, S,H,,M,M, (Bu Ayu) Dan pernyataannya juga sama, tidak boleh ada biaya tambahan lagi, dicontohkan nanti tidak ada lagi untuk membayar wisuda, magang, kuliah kerja nyata dan kegiatan akademik lainnya.

Januari, terdapat pengumuman untuk mengembalikan pendaftaran uang AMT dengan syarat harus ada bukti pembayaran saat mendaftar. Saat itu juga saya konfirmasi kepada kepala bagian kemahasiswaan Roro Utari,S.E.,M.Si. (Bu Roro) bagaimana jika mahasiswa 2012 kuitansinya hilang? Ternyata saat itu saya tidak disambut dengan baik dan dilayani dengan pelayanan tidak ramah! Saya tidak terima dengan perlakuan tersebut, padahal niat saya untuk mencari solusi baik – baik. Salah satu slogan UNS “active” adalah customer satisfaction (kepuasan pelayanan). Saya juga berdiskusi dengan PD III Hernawan Hadi, S.H.,M.Hum. (Pak Hernawan). Hasilnya juga tidak memuaskan saya akhirnya saya bawa kasus ini ke PD II karena berkaitan dengan uang.

Akhirnya, ditemukanlah saya dengan Bu Roro oleh Bu Ayu untuk mencari penyelesaian. Saya menawarkan solusi bahwa data nama mahasiswa didapatkan dari presensi atau bukti kuitansi dari mawa saat mencatat nama mahasiswa atau dari sertifikat. SPJ sudah dikumpulkan ke universitas adalah alasan yang digunakan sehingga nama mahasiswa tidak bisa dideteksi, kalaupun bisa dengan proses yang lama. Kembali saya tawarkan dengan menggunakan sertifikat, tetap tidak digubris. Akhirnya saya mengancam akan membawa kasus ini ke rektorat atau bahkan ke Ombudsman Republik Indonesia  (ORI).

FH Mendapat Peringatan Keras dan Perhatian Khusus

Ternyata ini sudah menjadi topik di jajaran rektorat, terlebih sebelumnya memang saya menyerang pertanyaan kepada staff ahli rektor dengan logika hukum yang saya miliki. Akhirnya tanggal 31 Januari 2013, FH mendapat peringatan keras dan perhatian khusus oleh rektorat.

Semenjak kejadian itu dan aksi UKT saya menjadi lebih sibuk karena diajak kordinasi oleh PD II, PD III dan bahkan Dekan FH. Selain itu juga hubungan birokrat kepada saya dan BEM lebih menjaga jarak. Yang tidak habis pikir bagi saya adalah pernyataan – pernyataan seperti “bukan anak 2012 kenapa repot – repot mengurusi mahasiswa 2012, jadinya birokrasi yang kerepotan”. Tapi saya tetap bersyukur karena ada yang menjawab “ya karena adek ini perwakilan mahasiswa, Presidennya saja dipilih melalui Pemilu”.

Bagi saya, kita sebagai anak muda tidak hanya menggantika generasi tua yang mengacau tapi anak muda harus berani mengacau sistem generasi tua yang kacau. Adapun kalimat yang saya ingat dari beberapa kawan sehingga membuat saya memberanikan diri untuk melakukan ini semua, Saya ingat apa yang dikatakan oleh Mas Izwan (Kader HMI) ketika upgrading “anak muda itu harusnya gelisah atas kemudahan yang ada sehingga bisa membongkar ketidak mudahan yang ada”, juga Mas Tono (Sekjend KAMMI) di lain kesempatan “mahasiswa sebagai anak muda memang harus bergerak, bergerak menggerakan” dan terakhir Mas Ucup “it doesn’t matter of who we are, the matter is about what we do”.

Hidup Mahasiswa !

Hidup Rakyat Indonesia !

Salam Garuda !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s