I’m a Light Man

Menjadi light man sebenarnya bukan hal yang asing lagi bagi saya. Sejak duduk di bangku SMA dulu (2010 -2011) saya pernah menjadi light man di salah satu rental sound di Surabaya, Wahyu Sound. Ketika itu saya diajak oleh salah satu marketingnya untuk bergabung sebagai marketing karena posisi saya saat itu mantan Ketua OSIS yang mengetahui agenda pensi tiap tahun di sekolah – sekolah SMA Surabaya. Tidak susah untuk mendapatkan tender di beberapa sekolah karena kebanyakan saya sudah memiliki jaringan dan rental sound ini sudah cukup terkenal. Mas Agung lah yang mengajarkan saya menjadi light men, tapi biasa dipanggil joki lampu.

Tidak sulit menjadi light man di konser musik, genre rock, metal, jazz, rege saya bisa mengiringinya. Setelah kuliah di UNS Solo, saya sudah melepas semua kehidupan Surabaya, termasuk sebagai marketing sound dan light men. Disini saya bergabung dengan Teater Delik, salah satu UKM di lingkungan FH UNS. Agenda tahunannya adalah Pentas Pantes, tahun ini saya didaulat sebagai light men dibantu oleh Mas Toni dan Mas Upil. Kali ini pentas diadakan pada 21 – 22 Mei 2013 di Student Center UNS. Berhubung saya masih baru dalam hal ini, saya fokus mengikuti proses (latihan) semua naskah selama hampir dua minggu.

Menjadi light man di dunia teater dan musik sangatlah berbeda jauh. Saya kira mudah saja hanya menyesuaikan dengan dimmer (alat pengatur nyala lampu). Terdapat perbedaan istilah, jika di rental sound par di teater klontong, rental fresnel di teater CYC. Begitupula di properti, jika dirental barangnya bisa langsung dipasang dan tanpa harus berhati hati, di teater harus ekstra hati – hati karena klontong (tempat lampu) hanya diamankan dengan kawat. Selanjutnya dimmer, pengatur nyala dan terang redupnya lampu. Dimmer teater tidak bisa digunakan asal tekan saja, karena bisa kongslet atau bahkan rusak, berbeda dengan musik yang bisa digunakan gradakan tanpa harus menggunakan perasaan. Untuk peletakan lighting di teater juga diperhitungkan secara rinci, berbeda di musik dapat diletakkan dimana saja asalkan variasi pencahayaannya bisa terlihat.

Itulah pengalaman saya sebagai light man teater. Saat ini saya dijuluki sebagai si tampan karena mewarisi ilmu lighting dari pendahulunya. Seru dan asik menurut saya, saya jadi memiliki keahlian sebagai light men di dua dunia, musik dan teater. Terima kasih kepada Mas Agung Wahyu Sound, Mas Upil, Mas Toni dan Mas Gory dari Teater Delik yang sudah mengajarkan saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s