Cerita Sebagai Mahasiswa

Menjadi mahasiswa merupakan hal yang membanggakan bagi saya. Mahasiswa merupakan jenjang dimana anak manusia menempuh pendidikannya pada strata paling tinggi. Di usianya yang muda, mahasiswa memiliki jalan pemikirannya sendiri yang biasa lain menyebutnya sebagai idialisme. Terlepas apa pengertian sesungguhnya idialisme itu, orang selalu menyebutnya demikian sebagai pemikiran atau mind set. Menjadi mahasiswa Indonesia berarti juga mengemban tanggung jawab sebagai agent of change dan agent of pressure. Bagaimana memanfaatkan masa menjadi mahasiswa?

Tanggal 8 Agustus 2011 pertama kali saya menginjakan kaki di lingkungan FH UNS, menggunakan alamamater biru telor asin dan siap untuk mengikuti OSMARU. Berangsur angsur kehidupan mahasiswa mulai membuat saya “ketagihan”. Diantara pilihan organisasi yang ada, saya memutuskan untuk bergabung dengan BEM FH (Badan Eksekutif Mahasiswa). Saat itu program untuk mahasiswa baru adalah magang. Enam bulan mencari ilmu disini dengan Kabinet Proaktif Berintegritas pimpinan Mas Johan, tahun depan saya memutuskan untuk bergabung dengan BEM FH kembali, yang kali ini Kabinet BERANI (Berpotensi Dengan Nurani) pimpinan Mas Kuncoro. Satu tahun setengah saya menempa diri untuk berpolitik, mengabdi dan melayani.

BEM menjadi bagian dari cerita hidup saya, dan saat ini di tahun 2013 saya memilih untuk menjadi Anggota DEMA FH (Dewan Mahasiswa) bersama beberapa kamerad di BEM periode sebelumnya. Berbeda dengan organisasi lain dimana saat pelantikan anggota, maka masa aktif anggota dapat dilanjutkan terus. Sedangkan di organisasi ini (DEMA dan BEM) setiap tahun terjadi perombakan sesuai kebutuhan. Masih banyak mahasiswa mengira saya anggota BEM, terutama saat input KRS lalu.

Istilah MARU (Mahasiswa Baru) sering diplesetkan menjadi mahasiswa rusuh untuk menjuluki saya. Saya sadari memang saya demikian, terutama saat melihat kondisi dimana itu tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Sebagai contoh saat di BEM lalu saya sering mengkritik keras kebijakan kampus : UKT yang tidak transparan hingga saya aksi turun ke jalan, pungutan liar kepada mahasiswa, jam belajar hingga jam ke-enam hingga menyebabkan aktivis kampus terhambat kegiatannya, isu penjualan mata kuliah saat KRS yang mana akhirnya KRS dapat terkunci otomatis, pembukaan kelas untuk beberapa mata kuliah, jenjang SKS yang akhirnya mahasiswa angkatan 2013 menikmatinya (tiap semester hanya 20 sks), mecarikan beasiswa dan lainnya
Apa yang saya lakukan memang beresiko, yang suka banyak tapi yang membenci juga tidak kalah banyak. Di bagian kemahasiswaan FH saja nama saya seperti sudah di “blacklist”. Dosen? Tentu saya juga pernah mendapat nilai C bahkan E karena sering berdebat dengan mereka atau pernah berususan dengan mereka. Tapi apa yang saya lakukan saat ini tidak lebih untuk menjadi bermanfaat, menegakkan yang saya anggap benar saat ini dan melayani untuk mengabdi.

Posisi sebagai Anggota DEMA dan BEM sudah menjadi pilihan saya untuk mengisi cerita mahasiswa saya. Dengan masa periode setahun, semoga di tahun ini saya tetap diberi kekuatan dan kemudahan untuk meluapkan apa yang ada dipikiran saya saat ini. Seperti kata iklan “kalau tidak sekarang kapan lagi? kalau bukan kita siapa lagi?”, marilah mahasiswa, terutama FH bergerak bersama untuk menciptakan perubahan. Perubahan sekecil apapun, itu akan tetap berarti.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Salam Garuda!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s