Ganyoto Raja Keok

Raja Kunipo mulai khawatir dengan wabah yang hingga kini tidak diketahui wabah apa yang sedang melanda kerajaannya. Ia tak mengetahui apakah ini sebuah kutukan dari sang pencipta. Sejenak ia merenung untuk merefleksikan dosa apa yang pernah ia perbuat sehingga semua rakyat di wilayah kerajaannya tidak memiliki anak, termasuk dirinya. Sang raja mengingat-ingat tentang perbuatan masa lalunya, tak jarang penasehat kerajaan juga diajaknya diskusi untuk menemukan solusi dari fenomena ini.

Salah satu penasehat kerajaan adalah Atambua. Atambua adalah salah satu petapa yang cukup disegani di kalangan kerajaan sejak Raja Kunipo masih menjadi putra mahkota. Petapa ini yang selalu mendidik sang putra mahkota hingga akhirnya menjadi raja menggatikan ayahnya. Karena turut merawat sang raja dari kecil, Atambua mengenal pasti perilaku sang raja.

Suatu ketika kekuatiran sang raja memuncak, ia tak memiliki putra mahkota untuk menggantikan jabatan di kerajaan Wonomingkem. Ia-pun memutuskan untuk memberikan jabatan raja kepada siapapun, asalkan putra asli wilayah kerajaan Wonomingkem. Tapi apa dikata, ternyata di daerah tersebut juga tidak ada seorangpun yang memiliki keturunan. Akhirnya, Atambua meminta ijin kepada Raja Kunipo untuk pergi ke kerajaan Kecoklat. Disana Atambua akan menemui raja yang bernama Dubyo.

Sesampainya di kerajaan Kecoklat, Atambua bertemu dengan Dubyo. Atambua menceritakan segala yang terjadi pada kerajaan Wonomingkem. Disana Dubyo menunjukan kebijaksanaannya dan membagi ilmunya kepada Atambua agar masalah yang terjadi pada kerajaan Wonomingkem dapat terselesaikan. Setelah beberapa bulan Atambua mendapatkan ilmu dari raja Dubyo, ia berpamitan untuk pulang. Di tengah perjalannya di hutan, sang petapa kerajaan Wonomingkem ini menemukan sebuah peti yang ketika dibuka ternyata berisi bayi laki-laki. Oleh sang petapa, anak laki-laki ini diberikan nama Ganyoto. Ganyoto tumbuh sebagai anak laki-laki yang pemberani, sopan, jujur, berbakti kepada orangtua dan selalu mengikuti yang diajarkan oleh Atambua sang ayah. Ganyoto dikenal ringan tangan, selalu membantu rakyat yang kesusahan. Bahkan pernah suatu ketika, ia memberikan semua hasil buruannya kepada satu keluarga miskin yang belum makan.

Raja Kunipo tutup usia, wasiatnya pengganti kerajaan adalah anak laki-laki yang berasal dari wilayah kerajaan. Akhirnya, Ganyoto menjadi raja yang adil, ramah dengan penasehatnya dan dicintai rakyat. Atambua diakhir hidupnya berpesan kepada Ganyoto untuk tidak melupakan cita-cita awal: meneruskan pemerintahan kerajaan dengan bijaksana, sang ayah juga berpesan kepada anaknya untuk pergi ke kerajaan Kecoklat menemui sang Raja Dubyo. Namun dalam melakukan perjalanan Ganyoto harus mengganti identitasnya agar tidak dikenali orang lain dan tidak menjadi incaran musuh kerajaan. Ganyoto memulai perjalanannya sendiri tanpa pengawal satupun.

Saat perjalanan menuju kerajaan Kecoklat, Ganyoto melewati desa Pleton. Disana ia bertemu dengan keluarga Rawa. Mengaku sebagai pengembara, keluarga Rawa membiarkan Ganyoto menginap di rumahnya untuk beberapa lama. Dalam keluarga tersebut, banyak anak laki-laki yang sering menemani Ganyoto berbincang-bincang, berburu bersama dan berbagi ilmu bela diri. Teryata disana juga ada saudara perempuan yang bernama Trini.

Ganyoto rupanya terpikat dengan anak perempuan di rumah keluarga Rawa, Trini namanya. Semakin lama ia lupa dengan pesan ayahnya untuk menemui raja Dubyo dan malah sibuk memikirkan bagaimana membahagiakan Trini. Sebenarnya Trini tak pantas untuk Ganyoto. Sifat Trini dikenal manja, boros, tamak dan sombong. Namun ini tak menyurutkan niat Ganyoto untuk mendapatkannya, bahkan Ganyoto ingin menikahinya. Tak ada yang bisa menghalangi niat Ganyoto ini. Akhirnya Ganyoto menikah dengan Trini.

Sekembalinya ke istana, Ganyoto banyak berubah. Orang sekitarnya-pun terkejut melihat perubahan pada dirinya. Penasehat kerajaannya sudah mengkritiknya, namun itu semua percuma. Sang raja lebih mendengarkan pujaan hatinya Trini. Kegemarannya berburu di hutan juga ia tinggalkan sejak ia menikah dengan Trini, ia memilih untuk hidup untuk bersenang-senang dan berada di kenyamanan bersama sang istri. Rakyat kerajaan Wonomingkem merindukan sosoknya yang lembut dan suka membantu. Biasanya Ganyoto sendiri yang memberi bantuan ke rakyatnya, tapi kali ini ia melemparkan ke pasukan pengawalnya dan cenderung berjarak dengan rakyatnya.

Perubahan ini terjadi tak lain karena pengaruh sang istri yang tamak dan sombong, kemana-mana selalu ingin dikawal. Ia pun tak pernah menyentuh rakyatnya karena alasan tidak sederajat. Suatu ketika Trini ingin mengajak Ganyoto untuk pergi berburu ke hutan. Ganyoto menyanggupinya. Pasukan pengawal juga disiapkan untuk menemani mereka. Tak disangka ternyata segerombolan harimau lapar mengikuti rombongan, rombongan bertarung dengan segerombolan harimau itu. Semua senjata dikeluarkan, namun beringasnya harimau tak mampu ditandingi oleh rombongan kerajaan. Ganyoto yang sudah tidak seperkasa dahulu kalah oleh harimau, ia lemah sudah lama tak berburu. Dan akhirnya Ganyoto dan semua peserta rombongan tewas diterkam harimau. Tragedi ini terjadi tepat dimana Ganyoto ditemukan oleh Atambua dalam peti, saat pulang dari kerajaan Kecoklat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s