Mahasiswa Sebagai Agen Kontrol

“Ting tong tiba-tiba ada sms: Assalamualaikum pak menkumham, bagaimana kabarnya? Kapan main ke Surabaya?”

Wah betapa terpananya membaca sms itu, anggaplah saja sebagai doa. Namun, berhubung handphone saya rusak dan nomornya hilang semua, dengan perasaan yang takut mengecewakan saya membalas menanyakan siapakah yang sms saya. Pengirim tidak spesifik menyebutkan namanya, hanya memberi clue dengan kenangan pernah mendorong mobil pick up saya sewaktu SMA. Saya ingat bahwa pengirim adalah adik kelas saya bernama Dawud Kusuma Dwijayadi yang saat ini menimba ilmu di Hubungan Internasional Universitas Airlangga (HI UNAIR). Tanpa panjang lebar ia mengutarakan keinginannya bertemu dan berdiskusi dengan saya. Ditentukanlah keesokan harinya, dan ia mendatangi rumah saya.

Karena berbeda disiplin ilmu dan universitas, kami lebih banyak menceritakan pengalaman yang terjadi di kampus. Ia menceritakan manfaat yang diperoleh ketika masa SMA mengikuti organisasi dengan saya, ilmu tidak tertulis inipun dapat diterapkan saat menjadi mahasiswa. Perbincangan berlanjut pada politik kampus yang terjadi di lingkungannya. Begitu sebaliknya saya juga menceritakan bagaimana situasi politik kampus yang terjadi di Universitas Sebelas Maret (UNS) secara umum.

Muncul pertanyaan dari adik kelas saya ini, “Loo Mas kalau di kampus kan, Presiden BEM itu diawasi legislatif. Kalau yang di pemerintahan real siapa yang mengawasi?”. Tanpa pikir panjang langsung saya jawab “Mahasiswa!”. Dan pertanyaan berlanjut, karena ia anak HI ia menanyakan tentang pengawasan Mahkamah Konstitusi (MK). Lagi-lagi juga saya jawab mahasiswa. Obrolan kembali berlanjut, kali ini mengenai Kebun Binatang Surabaya, mengalirnya obrolan juga mengarahkan pada bagaimana mahasiswa Surabaya berperan (baca: kontrol dan pernyataan sikap).

Pembicaraan hangat di sore itu jadi mengingatkan betapa setralnya peran mahasiswa dalam menopang demokrasi di negeri ini. Sekarang coba kita perhatikan, berbagai disiplin ilmu dimiliki oleh mahasiswa, tinggal bagaimana mahasiswa itu mengelola ilmu yang dimilikinya tadi. Hal yang sederhana saja, ada mahasiswa fakultas hukum, fakultas ilmu social dan ilmu politik, fakultas kedokteran, fakultas teknik dan masih banyak fakultas lainnya. Status mahasiswa juga dapat kita manfaatkan untuk bertemu siapa saja dan kapanpun. Mau bertemu ketua RT, bupati, gubernur, pedagang pasar, pengayuh becak dan bahkan (maaf) wanita tuna wismapun juga bisa.

Ada mahasiswa ilmu hukum untuk mengkritisi masalah hukum, ada mahasiswa hubungan internasional untuk mengkritisi diplomasi, ada mahasiswa ekonomi pembangunan atau sejenisnya untuk mengkritisi ekonomi bangsa. Toh tidak perlu takut seperti masa orde baru lagi. Ingat dengan kalimat “mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada dekan, dekan takut pada rektor, rektor takut pada menteri, menteri takut pada presiden dan presiden takut pada mahasiswa”? Entah darimana kalimat tersebut dapat tercipta, tapi dari kalimat tersebut rasanya bisa menggugah mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan ilmunya, terutama untuk membangun negeri ini.

Di akhir perbincangan sore santai itu saya mendapat hadiah buku berjudul Memompa Ban Kempis karya Sukardi Rinakit dari Dawud. Sambil bercanda saya terima dan mengatakan “semoga buku bukan unsur gratifikasi yang diterima menteri”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s