Menjadi Konsultan Hukum Saat Mahasiswa

Menjadi konsultan hukum? Itu memang keinginan saya di masa mendatang, angan-angan membuka PK  & Partners Law Firm pada tahun 2017 (mohon doanya). Bagaimana jika menjadi konsultan hukum saat ini? Wah sepertinya mustahil. Eh, tapi siapa bilang tidak bisa? Kalau dipikir lagi memang menjadi profesi konsultan hukum harus melengkapi persyaratan yang ditentukan. Disaat menjadi mahasiswa kita bisa saja menjadi konsultan hukum dengan ilmu yang dimiliki. Inilah cerita yang dapat saya tuliskan disini.

Berawal saat saya pulang ke Surabaya, saya terkejut ketika melihat rumah sebelah sudah dibongkar. Memang rumah ini sejak sekitar tahun 2009-an tidak berpenghuni. Sebut saja tentangga saya dengan Hans, Hans adalah pengusaha sukses yang bergerak pada bidang pembangkit listrik. Rumah kediamannya dijadikan kantor sekaligus menampung tenaga kerjanya. Tidak behenti disana, Hans mencoba usaha baru dengan menjadi developer perumahan. Karena membutuhkan modal yang besar, Hans meminjam uang kepada beberapa pihak, baik bank dan tentangga. Selanjutnya kita bisa menyebut Hans sebagai debitor sedangkan bank dan tetangga disebut kreditor.

Usaha pengembang rumah ini awalnya cukup meyakinkan, bahkan saudara sepupu saya pernah bekerja dengannya. Namun ternyata kejayaan usaha ini tidak lah bertahan lama. Kabar yang ada adalah karena tanah yang akan dijadikan rumah adalah tanah sengketa dan uang Hans dibawa kabur rekannya. Satu persatu harta Hans dijual untuk menutup utangnya, parahnya lagi usaha sebelumnyapun juga tak terselamatkan. Rumah yang menurut saya cukup megah itu akhirnya dijual.

Saat berbincang dengan ayah saya ternyata Hans masih memiliki utang yang belum dibayarkan kepada beberapa tetangga, sebut saja M, E, dan C. Hingga saat ini ketiga orang ini masih menagih uang yang pernah dipinjam oleh Hans. Dengan spontan ayah saya berkata “Trus kalau seperti itu mau apa lagi? Apa ada solusi?”. Untung saja saya masih mahasiswa, coba kalau tidak akan saya pungut fee konsultasi sambil canda. Pas sekali dengan mata kuliah hukum acara peradilan niaga yang baru saja saya lulus di semester lalu.

Menyadari tidak semua orang paham tentang hukum, maka dengan percaya diri saya menjelaskan tentang apa itu pailit. Pailit adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU. No 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Pailit berbeda dengan bankrupt (kita biasa menyebut bangrut). Daripada kreditor menunggu tidak pasti dan tanpa hasil, saya menyarankan kepada ayah saya untuk menyampaikan informasi ini. Syarat pailit cukup sederhana yaitu dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan. Sehingga kreditor akan mendapatkan uang dari hasil pemberesan aset yang dijual oleh kurator. Berhubung ada klausul putusan pengadilan, perkara ini harus didaftarkan ke Pengadilan Niaga, kebetulan di Surabaya ada.

Jika melihat kondisi Hans sudah tidak seperti dulu, sepertinya para kreditor akan berpikir ulang untuk melakukannya. Terlebih lagi biaya sidang pailit cukup tinggi dan stigma “masuk pengadilan rumit” masih saja ada di masyarakat. Alasan kemanusiaan sepertinya lebih kuat ketimbang menggunakan jalur hukum. Tapi itulah pilihan yang ada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s