Pencerdasan Mahasiswa Efisiensi Advokasi

“…. betapa peran lembaga eksekutif mahasiswa harus segera dikembalikan kepada jalur yang sebenarnya, jalur pengabdian, jalur sosial, jalur pelayanan, bukan sibuk dengan petualangan event-event organizer. Masih banyak ternyata yang membutuhkan bantuan akses informasi, lembaga eksekutif mahasiswa idelanya adalah tangan kanan bidang kemahasiswaan, niatkan untuk ibadah ya” – Agus Suroso, Mendagri BEM FT UNS 2012, Garuda UNS

Emosi saya cukup terbawa ketika membaca tulisan rekan saya Agus Suroso Jadi Mendagri Lagi? (Mendagri BEM FT UNS 2012) yang juga kebetulan rekan seperjuangan di Garuda UNS. Tulisan itu mengingatkan saya pada beberapa momen berkaitan dengan advokasi mahasiswa. Dua tahun lalu sebelum memilih jalan di Dewan Mahasiswa (DEMA), saya berkecimpung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sebenarnya apa BEM itu?

BEM merupakan salah satu organisasi dalam kampus yang menjalankan fungsi eksekutifnya. Di beberapa tempat bernama Lembaga Eksekutif Mahasiswa atau bahkan hanya Eksekutif Mahasiswa. Pada setiap kampanye Presiden BEM yang pernah saya temui, semuanya pasti akan mengangkat masalah advokasi (bantuan) mahasiswa. Tidak jarang juga akan menjanjikan adanya advokasi terhadap masyarakat.

Dari sekian lama mempelajari tentang advokasi, sebenarnya advokasi itu tidak perlu lagi ada jika mahasiswa sudah bisa mengerti bagaimana menangani kasus-kasus yang sedang dialaminya. Sekarang coba kita inventaris permasalahan yang sering dialami oleh mahasiswa. Dari agenda berkelanjutan: pembayaran SPP, UKT, beasiswa, birokrasi kampus dan agenda akan datang informasi KKN misalnya serta permasalahan lainnya.

Hal-hal seperti ini harusnya tidak perlu lagi mahasiswa mengalami kesulitan jika BEM memberikan pencerdasan kepada mahasiswa. Daripada BEM disibukan pada sektor hilir, akan lebih baik lagi BEM memberikan pressure di sektor hulu. Maksudnya begini, ketika universitas akan membuat sebuah kebijakan baru atau evaluasi setelah adanya kasus yang merugikan mahasiswa, disitulah BEM menunjukan taringnya untuk menawarkan sebuah mekanisme kemungkinan hal terburuk yang akan dirasakan oleh mahasiswa. Sehingga apabila goal setting ini terpenuhi, tidak perlu lagi BEM repot membantu mahasiswa, cukup mentransferkan informasi mekanisme apa yang harus dijalankan apabila mahasiswa mendapatkan masalah.

Adanya BEM mahasiswa harusnya tidak juga merasa dimanjakan. Memang BEM lahir karena ada masalah, atau mengingat janji kampanye untuk melayani mahasiswa. Ketika mahasiswa berada pada titik deadlock terkait dengan mekanismenya baru lah prajurit BEM turun tangan untuk membantu. Dengan adanya formulasi ini, BEM juga dapat fokus untuk lebih mengembangkan programnya untuk mengadvokasi masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s