Perayaan Imlek Tanda Kebhinnekaan

Tak terasa saat ini kita telah melewati satu bulan di 2014. Pada akhir Januari ternyata masih ada perayaan tahun baru China atau sering kita sebut sebagai perayaan imlek. Imlek dirayakan di seluruh belahan dunia oleh warga keturunan Tionghoa tak terkecuali di negeri ini, Indonesia. Di Indonesia sendiri penyebaran warga keturunan Tionghoa cukup luas. Cara masyarakat merayakannya pun juga cukup beragam.

Bangsa Tionghoa datang ke bumi pertiwi sejak Indonesia masih berbentuk negara kerajaan-kerajaan. Hal ini dapat kita temukan dalam pada pengetahuan umum maupun pelajaran sejarah di jenjang pendidikan. Saat itu warga Tionghoa bermaksud untuk melakukan ekspansi perluasan perdagangan di Indonesia.

Sepertinya tujuan warga Tionghoa tidak hanya ingin berdagang saja, sehingga banyak dari mereka yang berkeluarga dan menetap di Indonesia. Mereka membawa kebiasaan-kebiasaan asal mereka termasuk membangun klenteng dan vihara untuk beribadah. Ornamen-ornamen warna khas Tionghoa turut memberikan tambahan variasi pada bangunan rumah yang mereka miliki.

Selain itu, mereka juga tetap melaksanakan tradisi-tradisi yang salah satunya adalah Imlek. Setelah era reformasi perayaan imlek menjadi tanggal merah dan perayaannya tidak lagi diharamkan oleh pemerintah. Berhubung tersebarnya warga keturunan Tionghoa di Indonesia, maka perayaan Imlek pun juga dirayakan di berbagai daerah. Di Surakarta, perayaan Imlek dilaksanakan dengan adanya grebeg Sudiro dan dilanjutkan dengan pameran lampion di tengah kota. Sedangkan di kota Surabaya berbagai mal memberikan pertunjukan barongsai.

Perayaan Imlek identik dengan pemberian angpao kepada sanak saudara atau sesama rekan. Ini juga yang dinantikan oleh masyarakat sekitar. Warga etnis Tionghoa yang mampu membagikan rejeki berupa angpao kepada masyarakat tanpa pandang suku, ras dan agama. Salah satunya ini dilakukan di Klenteng Tay Kak Sie di Semarang.

Adanya perayaan imlek ini semakin menunjukkan akan eratnya persatuan Kebhinnekaan di negeri ini. Setiap golongan yang ada di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk merayakan hari besarnya. Islam merayakan Idul Fitri, Nasrani merayakan Natal, Hindu merayakan Nyepi dan Budha merayakan Waisak. Dengan fenomena seperti ini, akan mengajarkan kepada kita untuk saling menghargai perbedaan guna menjaga kesatuan republik ini.

Dimuat dalam Okezone 6 Februari 2014

http://kampus.okezone.com/read/2014/02/06/367/936891/perayaan-imlek-tanda-kebhinnekaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s