Cheng Ho Pendakwah Etnis Tionghoa

Beberapa waktu lalu warga keturunan etnis Tionghoa merayakan tahun baru China. Perayaan tahun baru ini biasa masyarakat sebut dengan istilah imlek. Hingga saat ini meriahnya perayaan masih dapat kita rasakan. Di Surakarta misalnya, lampu-lampu lampion masih terpasang rapi di tengah kota, tepat di depan Pasar Gede dan Kantor Pemerintahan Kota Surakarta.

Perayaan imlek di Indonesia merupakan tradisi hasil bawaan dari warga turunan Tionghoa yang menetap di Indonesia. Berawal dari niatan untuk ekspansi berdagang warga etnis Tionghoa, mereka akhirnya memilih tinggal di Indonesia.

Salah satu tokoh etnis Tionghoa yang populer di masyarakat Indonesia adalah Cheng Ho. Masyarakat muslim Indonesia mengenalnya sebagai tokoh muslim Tinghoa yang juga turut berdakwah untuk menyebarkan agama Islam di bumi pertiwi ini.

Cheng Ho terlahir sekitar tahun 1371 M di Provinsi Yunan sebelah baratdaya Cina. Nama kecilnya adalah Ma Ho. Dia tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Muslim. Apalagi, sang ayah pernah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Makkah. Menurut Rosenberg, nama keluarga Ma digunakan oleh keluarga Muslim di Tiongkok merujuk pada Muhammad.

Menteri Agama Suryadharma Ali dalam sambutannya berkunjung ke kawasan Kelenteng Sam Poo Kong Semarang beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Cheng Ho membawa ajaran Islam dengan damai, tanpa peperangan, tanpa konfik saat penduduk di kawasan Semarang beragama Hindu dan Budha. Cheng Ho pernah singgah dan mendarat pertama kali di tempat ini. Pada setiap ekpedisinya Cheng Ho selalu memberikan kenang-kenangan seperti porselin, sutera, dan barang-barang lainnya yang berasal dari negeri tirai bambu.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Laksamana Cheng Ho datang ke Surabaya pada abad ke-15. Setiap eksedisi pelayaran, Cheng Ho selalu membawa awak sebanyak 30.000-an pasukan. Untuk mengenalkan dan mengenang Cheng Ho, di Surabaya didirikan masjid bernama Masjid Cheng Ho. Masjid ini kini dikelola oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Bangunan masjid ini tak ayal menarik perhatian masyarakat yang melewatinya karena mirip seperti bangunan kelenteng. Warna merah, emas dan hijau mendominasi bangunan yang lokasinya tak jauh dari taman makam pahlawan Kusuma Bangsa Surabaya. Jelas saja hal ini membuat keunikan tersendiri diantara masjid-masjid lainnya.

Jika sebelumnya warga etnis Tionghoa identik bukan orang muslim, sepertinya hal ini tidak sepenuhnya tepat. Catatan sejarah mengenai penyebaran agama Islam oleh Cheng Ho membuktikan bahwa aktifitas berdakwah tidak identik hanya pada suku, agama, ras dan golongan (SARA) tertentu.

Dimuat Eramadina pada 22 Februari 2014

Link: http://eramadina.com/cheng-ho-pendakwah-etnis-tionghoa/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s