Memantik Ide Kreatif Mahasiswa

Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhir 2011 membuat kebijakan dengan merombak kabinet pemerintahannya.

Perombakan terjadi untuk merevitalisasi lembaga kementerian selaku pelaksana visi dari Presiden. Kala itu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dilebur ke dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara itu untuk meningkatkan daya saing pariwisata, dibentuklah Kementerian Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif. Kementerian itu ditujukan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan kreativitas dari masyarakat Indonesia yang berarti juga menambah pemasukan negara.

Segala upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan daya saing manusia Indonesia. Di dunia mahasiswa, sebuah program ditawarkan kepada mahasiswa untuk bisa memfasilitasi ide kreatif yang dihasilkan oleh para agent of change itu. Sebagai kementerian yang menjalankan bidang pendidikan, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) menawarkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Melalui program periodik ini, mahasiswa diharapkan dapat merealisasikan mimpinya yang tertuang pada proposal rencana kegiatan.

Perguruan tinggi memiliki peran dalam merangsang ide kreatif mahasiswa. Sebuah sistem kurikulum dapat dirancang sebagai suplemen tambahan bagi mahasiswa guna mengasah kemampuannya di luar kelas. Salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS), barubaru ini meluncurkan sebuah mata kuliah bernama technopreneur di fakultas teknik. Mata kuliah ini merupakan lanjutan dari mata kuliah kewirausahaan yang menjadi mata kuliah umum semua fakultas di UNS. Mata kuliah ini merupakan lanjutan dari mata kuliah kewirausahaan.

Mata kuliah kewirausahaan sampai saat ini terus diajarkan kepada mahasiswa UNS. Guna mendukung ilmu yang didapatkan dari kelas, fakultas hukum hampir setiap tahun rutin menyelenggarakan pekan kewirausahaan. Pada kegiatan ini, seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah kewirausahaan membuka stan dan mempromosikan produk-produk hasil kreativitas mahasiswa itu sendiri. Produk-produk yang dapat kita temui antara lain makanan, minuman, kerajinan tangan hingga peralatan perkuliahan.

Keterampilan dan kreativitas yang telah dikenalkan di bangku kuliah akan menjadi bahan pijakan mahasiswa dalam berkarya dan menghasilkan sesuatu bernilai. Menurut pendapat ahli, idealnya negara maju memiliki dua persen wirausaha sedangkan Indonesia belum mencapainya. Berbagai upaya pemerintah untuk memfasilitasi wirausaha muda telah dilakukan.

Sementara itu, menteri tenaga kerja dan transmigrasi menyebutkan bahwa wirausaha menjadi salah satu pilar ekonomi nasional yang tangguh menghadapi krisis ekonomi global, sekaligus solusi mengurangi kemiskinan serta menyerap pengangguran. Memang status mahasiswa yang notabene masih menimba ilmu masih tidak berkewajiban untuk mencari uang. Namun, perlu juga disadari bahwa sejatinya ketika anak muda melepas statusnya sebagai mahasiswa, ia akan berhadapan dengan dunia kerja.

Persaingan yang semakin hari semakin ketat membuat kita mau tidak mau harus menyiasatinya agar dapat bertahan hidup. Berbekal ilmu kewirausahaan yang telah didapatkan pada masa kuliah, mahasiswa dapat membuka usaha berskala mikro. Usaha mikro yang telah dirintis sejak dini dapat berkembang besar jika terus ditekuni. Seperti pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit

Dimuat dalam Koran Sindo Rabu 26 Februari 2014  dan http://www.koran-sindo.com/node/370663

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s