Tamu Undangan yang Dilarang Masuk

Fakultas Hukum UNS (FH UNS) bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi mengadakan seminar berjudul Optimalisai Peran Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Legitimasi Pemilu 2014 yang Berintegritas d Hotel Sahid Jaya Solo. Kesempatan baik ini tidak akan saya lewatkan, jauh hari saya sudah mendapatkan undangan tersebut. Dalam undangan disebutkan bahwa acara mulai jam 9 pagi untuk registrasi dan dimulai pada pukul 10. Niat baik untuk hadir tepat waktu tak terelakan ketika kendaraan untuk menuju kesana mengalami hambatan alias mogok, alhasil datanglah saya pukul 10. Namun ternyata tempat parkir yang tersedia juga penuh, dibantu oleh petugas hotel dapatlah saya parkir dan menuju ruang seminar.

Di loby hotel saya bertemu dengan Antonio (2011) dan Baginda (2013), dia mengatakan bahwa ruangan sudah penuh dan tidak ada yang boleh masuk lagi. Dengan percaya diri saya mengatakan bahwa saya memiliki undangan, tidak etis apabila saya tidak disediakan tempat.

Ternyata apa yang dikatakan benar, tepat di meja registrasi saya mendapat kabar bahwa saya tidak boleh masuk karena alasan terlambat. Sambil menunggu saya berusaha mengintip ruangan. Namun apa yang saya dapatkan, rupanya penjaga pintu yang juga Kabag Mawa FH UNS dengan sigap menutup pintu. Bahkan parahnya pintu tersebut dijaganya sendiri dan mengawasi gerak-gerik saya seolah saya adalah penjahat yang hendak mengacaukan acara.

Saya carilah informasi, ternyata sebelum saya datang malah ada mahasiswa yang jelas-jelas sudah duduk namun tidak diperkenankan melanjutkan acara dengan alasan ada tamu yang lebih penting, salah satunya Antonio. Bahkan informasi yang saya dapatkan, Samto (2011) yang juga teman saya sempat marah karena diusir untuk mendahulukan tamu yang dianggap lebih penting.

Mencoba masuk, langsung saya dibentak oleh penjaga pintu untuk memberitahukan panitia lainnya “yang ini datang siang setengah sebelas, telat minta masuk!”. Naik pitamlah saya, namun dapat ditenangkan oleh rekan-rekan saya. Saya heran dengan orang ini, padahal panitia tercatat baik mahasiswa maupun dosen berusaha mencarikan saya tempat. Apa hanya karena jabatan Kabag Mawa maka ia dapat ikut campur dalam kepanitiaan?

Saya menemukan ada salah satu dosen yang juga terlambat, namun bisa registrasi dan bisa masuk. Saya konfirmasilah dan sahutan penjaga pintu itu “Ibu itu sudah registrasi dan tadi ijin!”. Alasan tidak logis apalagi yang dia gunakan untuk menjegal saya padahal jelas-jelas saya melihat dosen tersebut baru saja registrasi. Apakah penjaga pintu ini berwenang untuk menerima laporan dari tamu? Padahal jelas di undangan RSVP bukan nomornya dan meja registrasi diurus oleh pantia mahasiswa. Tidak lama datang lagi seseorang yang mengaku dari Panitia pengawas pemilu kecamatan Laweyan, dengan sigap seseorang itu langsung masuk dan dicarikan tempat duduk.

Saya sempat hendak dibantu Pak Baktiar (Humas UNS), Pak Baktiar sudah menggandeng saya masuk namun sesampainya di ruangan saya diusir lagi dan penjaga pintu itu membisikkan kepada Pak Baktiar. Pak Baktiar juga tidak bisa membantu.

Akhirnya masuk

Upaya diplomasi sudah tidak dapat dilaksanakan, maka saya menggunakan cara lain yaitu dengan menghubungi Ibu Dr. I Gusti Ayu K.R.H., SH, MM (Bu Ayu) yang tidak lain Pembantu Dekan II (PD II). Saya memang dekat dengan Bu Ayu karena sebagai mahasiswa-dosen ataupun organisasi. Bu Ayu memang orang yang komunikatif dan saya respect kepada beliau.

Setelah saya menghubungi Bu Ayu, beliau langsung keluar dan mengajak saya masuk. Saya juga menjelaskan kalau saya mempunyai undangan, datang terlambat karena beberapa hal. Akhirnya saya dan beberapa orang yang terlambat datang namun memiliki undangan bisa masuk. Saya menunjukan bahwa saya adalah orang yang memang pantas untuk mengikuti kegiatan tersebut, saya mengikuti kegiatan hingga selesai. Tidak seperti peserta lain, yang (katanya) tidak memiliki undangan tetapi setelah makan siang lalu pulang. Ini terlihat ketika acara diskusi pendalaman dan penutupan yang sepi setelah makan siang.

Sebuah kejadian yang membuat saya jengkel ketika saya dan undangan lainnya tidak mendapat perlakuan yang baik dari orang lain. Ini dapat menjadi bahan catatan bagi siapapun yang hendak mengadakan seminar bahwa apapun alasannya ketika undangan sudah disebar maka sediakanlah tempat bagi tamu undangan. Kedua, perlakukanlah dengan baik ketika seorang tamu tidak mendapat tempat, minimal sediakan tempat duduk diluar bukan dibiarkan apalagi dihalang-halangi untuk masuk. Ketiga, siapapun itu orangnya maka hormatilah mereka sesama tamu undangan, jangan pernah membedakan peserta. Keempat, apabila telah disepakati bahwa hanya tamu undangan yang boleh masuk, maka janganlah diberlakukan siapa cepat dia dapat tempat.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tamu Undangan yang Dilarang Masuk

  1. Ping balik: Mereka Risih Dengan Saya | Prayogo Kurnia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s