Kemah Kebangsaan Markas Grup-2 Kopassus

Bersama Kapten Rizal“Salam Komando!” begitulah salam khas prajurit di markas grup-2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Kandang Menjangan Kartosuro. Inilah tempat saya dan beberapa rekan mahasiswa lainnya menghabiskan waktu sejak Sabtu 8 November sampai dengan upacara peringatan hari pahlawan ke-69. Walaupun hanya terhitung dua hari, tapi terasa sangat panjang bagi saya.

Pelatihan di markas Kopassus Kandang Menjangan Kartosuro bukan pengalaman militer pertama bagi saya. Pusdiklat Brimob Watukosek Pasuruan, Bumi Marinir Karangpilang Surabaya dan Dodik Bela Negara Rindam V Brawijaya Rampal Malang pernah saya singgahi saat SMA guna menempa fisik dan mental saya. Jadi ini adalah kali keempat saya merasakan pendidikan dan pelatihan ala militer.

Kopassus mengadakan kemah kebangsaan dalam rangka memperingati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November lalu. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan karena sebuah kebanggaan bisa dilatih oleh salah satu pasukan elit Indonesia yang cukup diperhitungkan di mata dunia. Saya memutuskan untuk mendaftarkan diri mengikuti program tersebut.

Sesaat menginjakkan kaki turun dari truck pengangkut rombongan, ikatan emosional dalam diri saya tidak bisa saya bendung. Memori saya masih mengingat dengan jelas apa kegiatan apa saja yang pernah saya lakukan di suasana yang sama namun berbeda tempat. Dengan spontan tangan kanan saya melepaskan barang bawaan, bersikap siap sempurna dan memberi hormat kepada prajurit piket. Inilah pelajaran yang pernah diajarkan kepada saya, baik di pelatihan militer ataupun di PASTRA saat SMA.

Walaupun sudah lama tidak turun ke lapangan tetapi saya masih ingat peraturan baris-berbaris (PBB). Bisa saya katakan, ini adalah momen saya bernostalgia. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya sudah memberi kabar kepada orang tua dan beberapa teman bahwa saya tidak akan bisa berkomunikasi selama kemah kebangsaan di Kopassus. Benar saja, segala alat komunikasi, barang berharga dan dompet saya harus dikumpulkan. Tujuannya agar kita fokus menjalani pelatihan.

Kapten Infanteri Rizal (Kapten Rizal) selaku komandan kompi batalyon menyambut rombongan. Tenda kemah sudah siap berdiri di lapangan tembak 400. Peserta kemah diperkenankan untuk mengambil veldbed, tempat tidur portable prajurit dan diperagakan bagaimana cara menggunakannya. Setelah itu peserta merapikan barang-barangnya dan kembali ke lapangan.

Bukan militer namanya kalau tidak bina jasmani (binjas) dan bina mental (bimen). Berlari sejauh 50 meter dengan hitungan detik menjadi welcome party. Ini membuat saya lelah dan menyadarkan saya yang sudah lama tidak binjas. Lalu kegiatan dilanjutkan dengan istirahat, ibadah dan bersih diri. Semua kegiatan harus dilakukan secara bersama-sama, berbaris sambil menyanyikan lagu nasional.

Sekitar jam tujuh malam, ada penyampaian materi bela negara oleh Kapten Rizal yang didahului dengan pemutaran video profil Kopassus. Saya merasa beruntung bisa komunikatif dengan Kapten Rizal. Saya memiliki beberapa referensi buku militer, diskusi mengenai dunia militer, merasakan mata kuliah hukum humaniter dan peradilan pidana militer. Saat penyampaian materi, saya bisa merespon dengan pengetahuan yang saya miliki. Materi selesai sekitar pukul 10 malam.

Keesokan harinya dimulai dengan senam pagi dan binjas seperti push up dan sit up. Dilanjutkan lagi dengan latihan PBB. Lagi-lagi ini mengingatkan saya kepada PASTRA dan pertemanan di PASTRA yang sudah terikat layaknya Saudara.  Sebenarnya dalam hati ada rasa tidak srek harus memulai latihan dari awal. Saya sadar masih banyak rekan-rekan yang belum bisa PBB. Baru kali ini juga saya melihat pelatih yang juga prajurit TNI sabar melatih. Setelah bisa PBB, peserta kemah kebangsaan diarahkan ke lapangan upacara. Disana saya dan peserta kemah kebangsaan di briefing oleh Letnan Satu Wahyu Wilian (Lettu Wahyu). Perwira satu ini bisa mencairkan suasana dengan gaya kocaknya hingga akhirnya latihan tidak terlalu kaku. Setelah persiapan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan rafling. Kegiatan selesai sebelum magrib dan dilanjutkan dengan orasi kepahlawanan di malam hari.

Sebelum pulang, saya memperingati hari pahlawan dengan upacara di markas Kopassus. Upacara yang dihadiri Wakil Bupati Sukoharjo dan elemen masyarakat itu juga terdapat pertunjukan atraksi terjun payung dan aksi-aksi militer lainnya. Domisili Kota Surabaya menjadikan kebanggaan tersendiri bagi saya saat peringatan hari pahlawan kemarin. Hari pahlawan tidak hanya milik warga Surabaya tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. Siang harinya, Komandan Grup-2 Kopassus, Kolonel Richard Tampubolon mengumpulkan peserta kemah kebangsaan dan memberikan tambahan suplemen bela negara dengan ekspresi yang penuh semangat. Saya juga menyempatkan waktu untuk berfoto bersamanya, para pelatih dan beberapa perwira Kopassus lainnya. Baju kotor bekas lumpur dan kulit hitam yang melekat pada diri saya ini adalah tanda bahwa saya pernah dibina di Markas Komando Grup-2 Kopassus Kandang Menjangan Kartosuro. Semoga hari-hari yang saya lalui kemarin akan bermanfaat bagi saya dan sebisa mungkin akan saya tularkan kepada yang lain.

Salam Komando!

Selamat hari pahlawan

Jayalah Indonesiaku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s