Wacana Kampus Bebas Rokok

Mahasiswa adalah kelompok manusia di tingkat tertinggi dalam hal pendidikan. Di sela – sela jam perkuliahannya, baik saat istirahat, menunggu jam ataupun jam kuliah kosong kita menjumpai mahasiswa di perpustakaan, kantin, taman atau di depan kelas. Coba kita perhatikan, biasanya kita menemui mahasiswa yang sedang asyik menghisap sebatang rokok. Tidak jarang dari mereka akan saling menawarkan rokoknya kepada mahasiswa lain. Alasannya adalah solidaritas sesama perokok.

Sejauh ini di lingkungan kampus UNS belum semua wilayahnya menerapkan kawasan anti (asap) rokok. Saat ini baru di Fakultas Kedokteran yang memberlakukan larangan merokok di wilayahnya. Kegiatan menghisap rokok bukanlah perbuatan haram, namun keberadaannya bisa menimbulkan dampak gangguan kesehatan bagi diri perokok itu sendiri ataupun orang di sekitarnya. Mahasiswa di sekitar asap rokok dengan terpaksa tidak bisa menikmati udara segar kampus yang rindang ini, sebutan bagi mereka adalah perokok pasif. Beberapa ahli menyebutkan bahwa asap rokok dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi perokok itu sendiri dan perokok pasif. Bahkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan Pada Kemasan Produk Tembakau mewajibkan pelaku usaha rokok untuk mencantumkan gambar peringatan bahaya merokok di setiap bungkusnya.

UUD Negara Republik Indonesia dalam Pasal 28H ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal ini kemudian dijabarkan ke peraturan lebih rendah lagi berupa undang-undang dan peraturan pemerintah. Pada UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (uu kesehatan) pun menyebutkan hal yang sama. Selanjutnya di Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan mengatur adanya kawasan tanpa di rokok. Di peraturan ini disebutkan bahwa salah satu kawasan tanpa rokok adalah tempat proses belajar mengajar.

Keberadaan regulasi penerapan kawasan tanpa rokok di Surakarta juga sebenarnya sudah diatur pada Peraturan Walikota Surakarta Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Kawasan Tanpa Rokok Dan Kawasan Terbatas Merokok (peraturan walikota). Sebagai peraturan yang lebih rendah, peratruan walikota mengatur hal lebih konkret lagi dimana saja wilayah-wilayah yang masuk ke kategori kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok. Tempat belajar mengajar diuraikan oleh peraturan walikota ini termasuk pada sekolah, akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut dan Universitas.

Lokasi kampus UNS berada dibawah yurisdiksi wilayah Kota Surakarta, artinya UNS juga tidak luput dari penerapan peraturan walikota ini. Namun pada kenyataannya hal ini masih jauh dari kenyataan tujuan peraturan – peraturan tersebut. Hal ini misalnya bisa kita lihat bahwa masih jarangnya kita temui gambar larangan merokok di kampus hijau ini sebagai petunjuk kawasan tanpa rokok. Padahal terdapat sanksi bagi UNS mulai dari teguran hingga denda apabila tidak menghiraukan peraturan – peraturan tersebut. Hingga saat ini Pemerintah Kota Surakarta dan UNS masih belum serius menegakkan peraturan walikota mengenai kawasan tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok. Sebagai tempat dimana mahasiswa menimba ilmu, UNS salah satu perguruan tinggi negeri sebaiknya menjalankan perintah-perintah dari peraturan perundang-undangan tersebut guna menciptakan ketertiban di lingkungan kampus. Peraturan-peraturan tersebut dirasa sudah cukup mengakomodir hak kesehatan civitas akademik, jikapun diperlukan sebaiknya UNS membuat regulasi berbentuk peraturan rektor agar lebih konkret.

Peraturan-peraturan diatas bukanlah untuk mengekang perokok aktif untuk menghisap rokok, melainkan untuk sama – sama memberi ruang kepada civitas akademik menikmati haknya. Misalnya saja di peraturan walikota mengisyaratkan kepada penanggungjawab instansi untuk menyediakan tempat khusus untuk  merokok. Terlepas dengan semua perdebatan mengenai pro dan kontra hak merokok dari masing – masing orang, alangkah lebih bijak dan toleran jika kita menggunakan hak kita tanpa mengurangi hak orang lain.

Majalah LPM Motivasi FKIP UNS

Edisi 44 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s