Jangan (ragu) Beraktifitas Lebih

Lantunan tadarus dari masjid di Desa Jeblogan Kabupaten Ngawi tetiba menggugah saya untuk berfantasi liar sebelum beristirahat. Tahun ini sudah tahun keempat saya menempuh studi di kampus negeri di Kota Bengawan ini. Universitas Sebelas Maret, biasa disingkat UNS adalah kampus pilihan Ibu saya. Apapun yang dikatakannya tidak ada alasan bagi saya menolak. Sekilas jika diingat ini adalah akibat ucapannya saat mengetahui anaknya selalu pulang malam karena aktifitas luar sekolah di tingkat sekolah menengah atas (SMA) dulu. Malam itu sesampai di rumah, “Nek kelakuanmu koyok ngene terus kuliah o luar kota ae pisan daripada wong tuwomu kuatir kon moleh opo gak”. Akhirnya tanggal 18 Mei 2011 pengumuman SNMPTN Undangan menyatakan saya diterima di Fakultas Hukum UNS.

Di bangku perkuliahan aktifitas pengembangan diri lebih “menjadi” saat kita menemukan passion kita. Bekal hidup di organisasi SMA terus masih menyala dalam diri. Saat itu organisasi kemahasiswaan UKM dan non-UKM menjadi pilihan untuk mengaktualisasikan diri. Tahun pertama adalah fase dimana proses belajar: banyak melihat, banyak mendengar dan banyak ikut kegiatan sana – sini. Pada tahun kedua mulai pada proses pematangan, memilih tempat dan mulai menerima ujian oleh senior. Di tahun ketiga adalah ajang pembuktian diri.

Di tahun keempat ini, idealnya mahasiswa angkatan 2011 sudah memiliki gelar alias lulus, atau minimal sedang menempuh penulisan skripsi. Tetapi ini tidak dialami oleh saya dan beberapa teman saya, bahkan kami masih menjalankan salah satu syarat kelulusan: kuliah kerja nyata (KKN) atau kegiatan magang mahasiswa (KMM), di tahun 2014 lalu kami memang tidak menjalankan KKN untuk standby di sekretariat organisasi kampus. Ya, saya akui memang saya memilih menunda kelulusan saya akibat ulah sebelumnya di organisasi kampus.

Setiap orang pasti memiliki panutan, saya biasa menyebutnya sebagai mentor. Ada sebuah kalimat “junior berkarya karena senior membimbing”. Masyarakat masih mengganggap masa studi lebih dari delapan semester adalah aib. Padahal tidak semua mereka yang lulus lebih dari delapan semester adalah mereka yang bodoh, tidak niat kuliah atau anggapan – anggapan negatif lainnya. Hampir sebagian mentor saya yang bergerak di dunia aktifis mahasiswa ataupun bisnis lulus lebih dari empat tahun. Alasannya sederhana: masih mengemban jabatan sebagai amanah yang harus dijalankan sehingga mengorbankan kuliah, masih ingin menikmati fasilitas status mahasiswa (lomba, menulis di media, aksi), menjalankanbussiness trip dan alasan logis lainnya.

Alasan – alasan tersebut bisa menjadi bekal saat melepaskan status sebagai mahasiswa nantinya. Dinamika yang pernah mereka alami sebelumnya akan menempa mental, pikiran dan fisik mereka. Lihat saja proses tanah liat yang harus dibakar, dipukul, dijemur hingga akhirnya menjadi produk hiasan rumah yang cantik dan bernilai. Kurang lebih seperti itulah ilustrasinya, mereka memilih sendiri untuk ditempa hidupnya demi mengejar passion yang mereka yakini akan berguna bagi mereka nantinya.

Salah seorang dari mereka mengatakan kepada saya: “berani gak, lulus setelah selesai berorganisasi, mengabdi, meneliti, aksi, menulis di koran dan memenangkan kompetisi?”. Tantangan itu kini sudah saya realisasikan Bung! Sekarang saatnya untuk mengejar gelar sarjana hukum guna merealisasikan cita – cita saya. Terimakasih kepada Mas Mas dan Mbak Mbak yang sudah mempengaruhi juniormu ini, semoga tidak bosan terus berbagi pikiran bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s