Formasi Baru Wakil Presiden BEM FH

Rabu 23 Desember 2015 menjadi babak baru bagi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum UNS (BEM). Kepengurusan baru berada pada pundak Alfiansyah, mahasiswa hukum angkatan 2013. Sebelum menjabat menjadi Presiden BEM periode 2016, Alfi adalah staff ahli DEMA periode 2014 dan mengikuti pemilu sehingga mengantarkannya menjadi Ketua DEMA periode 2015.

Tetapi pada periode kabinet 2016 ini Alfi tidak sendiri, ia ditemani seorang Wakil Presiden bernama Ayuk. Ayuk dan Alfi dipilih satu pasang saat pemilu awal Desember lalu. Penambahan struktur Wakil Presiden menjadi salah satu alternatif baru yang dimunculkan oleh DEMA periode 2015.  Entah apa yang melatarbelakangi perubahan ini, tetapi isu adanya Wakil Presiden memang sempat dibahas pada DEMA periode 2013 – 2014.

Sebelum adanya formasi baru wakil presiden, second leader pada BEM adalah Sekretaris Jenderal. Biasanya juga Sekretaris Jenderal merangkap sebagai Sekretaris Kabinet. Adanya second leader memang dibutuhkan pada setiap organisasi, hal ini untuk mengantisipasi bilamana ketua atau presiden berhalangan hadir karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan bertukar pikiran antar pimpinan.

Anggota DEMA periode 2013 – 2014 mayoritas adalah anggota BEM kabinet BERANI (Tahun 2012 – 2013) dan ProIntegritas (2011 – 2012) sehingga tahu seluk beluk BEM dengan masing – masing pola kepemimpinan presidennya. Pada masa Sidang Umum (SU) ditetapkanlah dalam AD – ART BEM bahwa Sekretaris Jenderal BEM sebagai second leader dengan ketentuan tidak boleh merangkap jabatan di struktur BEM lainnya. Alasannya sederhana, agar Sekretaris Jenderal tidak mengurusi hal – hal teknis di kementerian BEM dan fokus pada fungsi kontrol atau supporting system Presiden BEM sehingga keberadaan Sekretaris Jenderal bisa maksimal membantu menjalankan visi misi Presiden BEM melalui program kerjanya.

Adanya Wakil Presiden BEM menandakan bahwa DEMA periode 2015 melanjutkan perbaikan dan keresahan yang belum terselesaikan  pada periode sebelumnya. Idealnya seorang Wakil Presiden BEM selaku second leader memang harus direncakan sejak awal agar Presiden dan Wakilnya mempunyai komitmen atas rencana kerja di kabinetnya nanti. Ini akan menjadi pembeda dengan periode sebelumnya dimana seorang second leader hanya secara kultural membantu Presiden BEM hingga ia dilantik sebagai Sekretaris Jenderal.

Hingga saat ini Penulis belum mengetahui AD – ART BEM mengenai pembagian tugas dan wewenang antara Presiden BEM dan Wakilnya. Pengaturan ini perlu diadakan agar tidak terjadi tumpang tindih tugas dan wewenang antara Presiden, Wakil dan Menteri di BEM. Tetapi hal ini bisa disikapi bilamana Presiden BEM telah mempersiapkan orang – orangnya yang nanti menjadi satu tim dalam kabinetnya. Dan yang paling penting lagi adalah tim tersebut dapat mengembalikan roh dari keberadaan BEM itu sendiri sebagai organisasi gerakan kemahasiswaan.

Diharapkan dengan adanya Wakil Presiden BEM mendatang akan membantu memaksimalkan kerja BEM berikutnya sebagai wadah organisasi yang kritis, peka dan solutif terhadap isu kampus, daerah dan nasional. Dan tentunya semoga BEM bisa berkarya dan beraksi lebih produktif lagi. Selamat bertugas menjalankan amanah mahasiswa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s