Mereka Menangkap Saya

Tayangan Meja Bundar yang mengulas tentang korban salah tangkap lalu telah diulas di tulisan berjudul kisah salah tangkap mereka. Semalam ketika suara televisi menemani malam Saya, rupanya ada pula orang yang diduga mengalami hal yang sama, salah tangkap. MetroTV memberitakan seorang Ibu yang sedang mengunjungi atau lebih tepatnya mengadu kepada LBH Jakarta karena anaknya ditangkap Polres Bekasi dengan dugaan membunuh seorang bernama Yosafat Hutabarat. Saat ini sang anak berada di kursi pesakitan menunggu putusan hakim.

Memori lima tahun lalu masih jelas teringat di benak, ketika hal yang sama juga pernah saya alami. Tetapi apa yang Saya alami tidak separah kisah – kisah di media atau televisi. Sayangnya pula media tidak berpihak kepada Saya yang disalah tangkapkan seperti yang Saya lihat belakangan ini, yang ada mereka memposisikan Saya sebagai pelaku kejahatan yang bersembunyi dengan alasan media sebagai sumber informasi publik dengan segala rangkaian kalimat manisnya. Ya ada istilah yang kita kenal, bad news is a good news.

Ketika itu akhir Oktober 2010, tepatnya tanggal 31 Saya menonton pertandingan persahabatan sepak bola tim favorit Saya, Persebaya Surabaya melawan Persekapas Pasuruan di Kabupaten Pasuruan. Saat itu Saya beriringan dengan Bonek lainnya dengan sepeda motor dari Surabaya melewati Sidoarjo untuk menuju ke Kabupaten Pasuruan. Pendukung tim Deltras Sidoarjo, Delta Mania merupakan salah satu supporter yang pernah terlibat baku hantam dengan Bonek karena alasan yang sampai saat ini masih diperdebatkan. Pada nyatanya prediksi akan adanya bentrokan tidak terjadi.

Sore hari menjelang magrib para Bonek melakukan konvoi menuju Surabaya, termasuk Saya di rombongan paling belakang. Saya tidak mengetahui adanya bentrokan di rombongan depan karena sejauh perjalanan Saya tidak melihat dan tidak mengalami bentrok fisik oleh masyarakat maupun Delta Mania. Malah yang ada Saya dikawal oleh Polisi bersepeda motor, bahkan Saya sempat berbicara santai dengan Polisi tersebut tanpa ada rasa curiga. Pengawalan ini berlangsung hingga hampir memasuki wilayah Surabaya. Akan tetapi tiba – tiba dari belakang alangkah kagetnya Saya ketika ada Polisi lain yang dengan cepat tanpa ada peringatan apapun menendang sepeda motor Saya hingga oleng dan menepi.

Setelah menepi, pasukan berseragam coklat pahit itu beraksi dengan tindakan yang tidak patut dipertontonkan. Selanjutnya tibalah belasan orang ditangkap itu dibawa ke Polres Sidoarjo. Kapolres Sidoarjo saat itu juga datang ke markas, saat itu dijabat oleh M. Iqbal dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) lengkap dengan dua melati di pundaknya. Saat ini sang komandan menjabat sebagai Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro dengan pangkat barunya sebagai Komisaris Besar (Kombes). Masih teringat jelas pula pandangan saling tantang itu yang pada akhirnya dipisahkan oleh bentakan Kasat Reskrim AKP Ernesto Seiser, perwira polisi yang pernah dijatuhi hukuman penjara tahun 2012 karena terbukti melanggar Pasal 220 KUHP  atas perbuatannya telah merekayasa penembakan terhadap Riyadus Sholihin, seorang guru ngaji asal Desa Sepande Kecamatan Candi, Sidoarjo.

Selama di Polres, Saya merenung dan sadar bahwa Tuhan turun tangan untuk memperingatkan Saya karena tidak menuruti permintaan Ibu yang melarang Saya untuk menjadi perwira polisi. Saya memang ingin sekali masuk akademi polisi, Saya sudah mempersiapkan segala hal yang sekiranya akan dibutuhkan nanti tetapi Ibu melarang Saya dan Saya tetap kukuh pada keinginan Saya hingga akhirnya Saya harus mengalami ini.

Setelah menempuh kuliah di ilmu hukum, akhirnya Saya tahu bahwa apa yang Polisi lakukan kepada Saya dan orang – orang lainnya saat itu tidaklah perlakuan yang semestinya. Saya tidak akan menceritakannya disini, mengingat adanya pasal karet dan wewenang yang bisa mereka gunakan. Tokoh sekelas Novel Baswedan mantan anggota korps mereka saja yang sudah jelas oleh Ombudsman dinyatakan terdapat maladministrasi dan rekayasa pengusutan kasusnya tidak mudah untuk keluar dari tuduhan mantan korpsnya itu.

Bermalam satu hari di Polres Sidoarjo memeberikan banyak pelajaran bagi Saya, pelajaran yang tidak Saya temui ketika di bangku kuliah dan buku. Akhirnya Saya bisa keluar dan lolos dari jeratan mereka, Saya teringat salah satu buku yang pernah Saya baca, judulnya konspirasi Antasari. Ingatan itu membuat Saya berontak untuk melawan. Mendebarkan, bahkan Bapak Saya hampir menampar Saya karena melihat perdebatan sengit Saya dan Ernesto. Terima kasih kepada M. Iqbal, Ernesto dan anggota – anggota lainnya yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Saya, Saya tidak akan pernah melupakan wajah, nama dan perilaku kalian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s