Dihakimi Sebelum Diadili

Enam Januari 2016 menjadi hari terakhir bagi Wayan Mirna Salihin menikmati kopi bersama teman – temannya. Peristiwa meninggalnya Mirna membuat Polisi selaku penegak hukum menyelidiki penyebab kematiannya. Kasus ini menyita perhatian publik sampai Direktorat Reserse Umum yang dipimpin oleh Komisaris Besar Krishna Murti bisa kita lihat bergerak cepat untuk menemukan pelaku yang diduga melakukan tindak pidana pembunuhan dengan mencampurkan sianida ke dalam kopi Mirna.

Hampir setiap hari media cetak maupun elektronik memberitakan perkembangan kasus dugaan pembunuhan ini. Bahkan pada majalah TEMPO edisi 18 – 24 Januari 2016 halaman 82 secara jelas memberikan ilustrasi kronologi “Kopi Maut di Meja 54”. Jessica Kumala Wongso menjadi salah satu target wartawan selain Kombes Krishna Murti dan Edi Darmawan Salihin (Ayah Mirna). Jessica menjadi target karena ia menjadi saksi atas tragedi kopi maut tersebut. Atas informasi yang diberitakan oleh pers, masyarakat perlahan menduga Jessica lah pelaku yang mencampurkan sianida ke dalam kopi Mirna. Walaupun pada akhirnya penyidik juga menetapkannya sebagai tersangka atas dugaan pembunuhan terhadap sahabatnya Mirna.

Saat ini Jessica sedang pada masa penahanan sebagai tersangka. Akan tetapi status tersangka Jessica ini seolah – olah memang benar dia pelaku pembunuhan terhadap Mirna. Padahal seseorang yang ditetapkan sebagai tersangka belum tentu dinyatakan bersalah melalui putusan hakim. Parahnya lagi, sudah banyak beredar meme di akun media sosial sehingga seolah – olah Jessica benar – benar seorang pembunuh. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan masyarakat umum, terlebih lagi ketika banyak masyarakat menelan mentah – mentah informasi dari media.

Proses hukum atas dugaan pembunuhan terhadap Mirna masih panjang. Penyidik harus melengkapi segala dokumen yang nantinya akan dilimpahkan bersama tersangka ke penuntut umum, lalu penuntut umum akan menilai apakah sudah lengkap dokumen tersebut (dikenal dengan P-21) untuk diadili di pengadilan. Status tersangka berubah menjadi terdakwa ketika persidangan telah dimulai. Pada proses inilah terdapat agenda pembuktian: pemeriksaan alat bukti (saksi, ahli dan lainnya) baik yang memberatkan ataupun meringankan terdakwa. Ini menjadi bagian penting karena menurut tokoh hukum Indonesia yang juga seorang advokat, Yap Thiam Hien pada pleidoinya menuliskan bahwa tugas utama pengadilan ialah mencari dan menemui kebenaran.

Pada akhirnya, majelis hakim menentukan melalui putusannya apakah terdakwa bersalah atau tidak. Walaupun pada putusan tingkat pertama dinyatakan bersalah, apabila Jessica dan penasihat hukumnya melakukan upaya hukum. Jessica belumlah dianggap sebagai pelaku tindak pidana karena belum ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

Asas praduga tak bersalah menjadi kalimat hiburan semu bagi Jessica dan tersangka – tersangka tindak pidana lainnya akibat pemberitaan media. Alasan memenuhi fungsi sebagai media informasi masyarakat, media secara tidak langsung menggiring opini publik untuk menghakimi terduga tindak pidana sebelum ia diadili di pengadilan secara sah menurut hukum. Masyarakat perlu mengingat bahwa tidak semua mereka yang ditetapkan sebagai tersangka, mereka yang ditangkap polisi atau penyidik adalah pelaku tindak pidana. Polisi atau penyidik juga manusia, bisa juga melakukan kekeliruan dan itu terbukti dengan adanya beberapa kejadian salah tangkap. Mari kita menunggu proses hukum selanjutnya atas kasus ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s