Awas Clicking Monkeys

Clicking Monkeys pertama kali dikenalkan oleh seorang pemimpin redaksi TEMPO. Co, bernama Daru Priyambodo melalui kolomnya tanggal 15 November 2013. Clicking Monkey secara sederhana diuraikan ialah mereka yang dengan riang gembira mengklik telepon selulernya  untuk menyebarluaskan dengan layanan broadcast hoax kesana kemari, me-retweet atau mem-posting ulang di media sosial. Hampir di semua aplikasi media sosial terdapat layanan berbagi sumber, di facebook ada share, twitter dengan retweet-nya, BBM dengan broadcast dengan teks khasnya berwarna ungu, LINE dan tidak ketinggalan layanan WhatsApp.

Beberapa hari lalu media sosial diramaikan dengan adanya dugaan pelanggaran asusila oleh oknum pengemudi gojek bernama Irwan. Maksud hati mem-posting pengalaman buruk adiknya adalah agar masyarakat luas lainnya tidak menjadi korban pelanggaran asusila yang diduga dilakukan oleh oknum pengemudi gojek tersebut. Postingan tersebut menceritakan kronologi korban dugaan pelanggaran asusila. Entahlah awalnya tulisan ini berasal dari akun siapa, tetapi terhitung sehari dengan cepat langsung ter-copy paste dan ter-share di akun – akun publik lainnya.

Harus diakui bahwa media sosial cukup membantu masyarakat mendapatkan informasi terkini, ter-update dan termurah, maka pantaslah ketika Bang Jay penjual koran dan majalah di pojok parkiran Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (FH UNS) memilih pekerjaan lain dan menyudahi untuk mendistribusikan koran dan majalah untuk warga kampus. Salah satu faktornya yaitu mahasiswa saat ini lebih memilih membeli pulsa untuk paket internet daripada majalah mingguan yang dijualnya. Apakah ini tidak tepat? Tepat, setiap orang pasti memiliki alasan pembenarnya.

Kembali pada postingan dugaan pelanggaran asusila oleh oknum pengemudi gojek bernama Irwan. Postingan ini sepertinya menyebabkan tulisan berjudul “dihakimi sebelum diadili” perlu adanya revisi karena sumber informasi tidak hanya berasal dari pers. Setiap orang dan akun anonimpun bisa menjadi sumber informasi, asal di telepon seluler terdapat aplikasi media sosial dan peket internet.

Walaupun sama – sama bisa menjadi sumber informasi masyarakat, tetapi perlindungan hukumnya berbeda. Pers diatur dengan Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, bilamana terjadi kekeliruan atau informasi tidak tepat dari pers terdapat hak bagi pihak terkait bernama hak koreksi dan hak jawab. Kedua hak tersebut wajib dimuat di produk pers dimana kekeliruan atau informasi tidak tepat diberitakan. Sebaliknya jika seseorang melalui akun media sosialnya ternyata tidak terbukti terhadap posting-nya, maka Pasal pencemaran nama baik di KUHP maupun Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik siap menjerat pemilik akun penyebar berita tersebut. Hal ini juga berlaku bagi para pelaku Clicking Monkeys, walaupun bukan akun miliknya dan hanya sekedar me-retweet atau mem-posting ulang di media sosial.

Setiap orang memiliki hak hukum yang sama dengan warga negara lainnya, termasuk pengemudi gojek yang diduga melakukan pelanggaran asusila itu. Bijaklah menggunakan media sosial, gunakan bahasa – bahasa santun yang tidak mengarah untuk menghakimi dan selesaikan dengan mekanisme yang tersedia karena jika terdapat kejadian buruk yang kita benci adalah sikapnya bukan orangnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s