Meluruskan Niat Menjadi Advokat

Di Indonesia ada beberapa tahapan untuk menjadi seorang advokat. Tahap pertama adalah harus bersarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum selanjutnya mengikuti pendidikan khusus profesi advokat, magang selama dua tahun berturut – turut, ujian advokat, pengangkatan oleh organisasi advokat dan terakhir disumpah atau diambil janji di sidang terbuka pengadilan tinggi.

Saat ini Saya sedang berada pada tahap kedua yaitu pendidikan khusus profesi advokat (PKPA) yang diselenggarakan oleh PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan FH UGM. PKPA merupakan syarat mutlak bagi seseorang untuk menjadi advokat, tetapi tidak semua mereka yang menjadi peserta PKPA ingin menjadi advokat. Ada yang mengisi waktu luang selagi mencari pekerjaan, memenuhi syarat lowongan pekerjaan yang membutuhkan sertifikat PKPA, mencoba semua jalur pekerjaan dan bahkan pilihan terakhir karena belum bekerja. Sah – sah saja apa yang mereka lakukan karena syarat untuk mengikuti PKPA terbuka untuk setiap orang.  

Pada satu materi legal reasoning oleh seorang advokat senior Jeremias Lemek, cukup mengerutkan dahi ketika menanyakan alasan peserta PKPA ingin menjadi advokat. Ingin banyak uang dan kaya, jawaban seorang peserta PKPA. Maka seorang Jeremias Lemek meluruskan hal tersebut karena alasan itu dianggap keliru. Jeri, sapaan Jeremias Lemek menjelaskan bahwa advokat adalah sebuah profesi (mengabdi melalui ilmu tertentu) bukan hanya pekerjaan semata. Jeri juga menjelaskan sejarah maupun filosofi asal muasal kata advokat sehingga profesi ini disebut dengan Officium Nobile.

Mohd. Jully Fuady pada tulisannya berjudul ‘Officium Nobile’ dan Kehormatan Advokat (2014) menjelaskan awal mula profesi advokat dijalankan oleh Patronus, seorang tokoh dan pemuka di zaman Romawi Kuno. Ia mengambil peran menjadi advokatus untuk mendapatkan keadilan atas sengketa hukum yang terjadi saat itu dengan mengenalkan sistem pembelaan dari bentuk peradilan yang berbeda dari sebelumnya.

Pada zaman Romawi Kuno, Patronus menjadi sandaran dan harapan publik untuk mendapatkan keadilan atas sengketa ekonomi, keluarga, properti ataupun yang bersifat pidana. Motifnya saat itu bukanlah profit, namun bagaimana dapat mengumpulkan power dan pengaruh di tengah masyarakat untuk menyeimbangi kekuasaan serta kedermawanan. Seiring waktu masyarakat pada saat itu sudah mulai mengenal advokatus yang kemudian semakin popular hingga saat ini dengan istilah advokat. Profesi hukum ini kemudian sudah mulai memperkenalkan honorarium dalam setiap aktivitasnya.

Berdasarkan Undang – Undang Advokat, honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh Advokat berdasarkan kesepakatan dengan Klien. Lebih jauh honorarium berasal dari kata honor berarti kehormatan atau kemuliaan. Sehingga dijelaskan juga oleh Jeri bahwa honorarium merupakan suatu penghormatan dari klien untuk seorang advokat.

Jeri juga menjelaskan profesi advokat adalah diperuntukan bagi mereka yang terpanggil hatinya. Berbicara mengenai panggilan hati, ini mengartikan bahwa seseorang sebelum memutuskan untuk menjadi advokat harus menjalani sebuah refleksi diri yang mendalam. Panggilan hati untuk menjadi advokat adalah masa dimana Saya pernah berurusan dengan aparat kepolisian (baca tulisan Saya: mereka menangkap saya, 6 Januari 2016). Setelah kurang lebih satu bulan psikis terguncang, maka Saya deklarasikan diri untuk menjadi seorang pembela. Tidak diduga, rupanya Saya mempunyai teman di PKPA yang mengalami hal serupa sehingga ia bertekad untuk menjadi advokat. Saya merasa lebih baik darinya karena bisa menyelamatkan diri di proses penyidikan. Tidak menutup kemungkinan seseorang hatinya terpanggil dengan cara yang beragam.

Pemateri lain bernama Garda Utama Siswandi dan Shalih Mangara Sitompul secara eksplisit menyampaikan hal yang sama seperti Jeri. Bahkan di akhir sesi Garda berharap kepada peserta PKPA agar tidak menjadi advokat hitam dengan menghalalkan segala cara untuk membela kepentingan kliennya sedangkan Shalih Mangara Sitompul memberikan motivasi agar peserta PKPA tidak ragu atas pilihannya menjadi advokat dan menjauhi ambisi cepat kaya tetapi yakinlah akan dicukupkan oleh Tuhan melalui profesi ini. Pemateri selain Jeri, Garda Utama Siswandi dan Shalih Mangara Sitompul juga menyampaikan pesan yang sama. Bahkan mungkin seluruh masyarakat di luar sana andaikata bisa menyampaikan harapannya akan berharap hal yang sama, yaitu banyak muncul good advocate di negara ini yang mengedepankan keadilan daripada materi dalam berprofesi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s