Merindukan Mijon

Awal tahun 2017 ini masyarakat Indonesia harus mengeluarkan dana lebih untuk pengurusan STNK dan BPKB baru kendaraan pribadinya. Tidak hanya STNK dan BPKB saja, tetapi juga harga cabe, dan bahan bakar minyak non-subsidi. Bahkan kabarnya tarif dasar listrik 900 VA subsidinya dicabut. Bukan tarifnya yang naik tapi ganti harga. Namanya juga tahun baru, tarifnya juga ganti baru. Sampai – sampai mahasiswa melakukan aksi menunjukan ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah.

Sebelum naiknya harga – harga komoditas tersebut, harga tiket kereta api sudah naik diiringi dengan kopi cup kecilnya yang terbuat dari kertas. Kini sudah tidak ada lagi pengusaha perorangan Ibu – ibu dan Bapak – bapak dengan dialek khasnya berteriak “Mijon mijon (mizone) teh anget, kopi, energen anget anget (hangat)”. Sudah tidak ada lagi penjual mijon, penjualnya sekarang korporasi besar yang tidak lain anak perusahaan dari operator kereta api, PT. Reska Multi Usaha.

Perjalanan menggunakan transportasi umum dengan kereta api merupakan salah satu alternatif pilihan masyarakat untuk bepergian lintas kota. Selain murah, menggunakan jasa layanan kereta api dijamin anti macet dan anti ban bocor, terdapat toilet yang siap menampung kotoran kita selama kereta berjalan lengkap dengan wastafel, sabun, tisu dan kaca untuk menata rambut dengan pomade.

Terkadang kereta api juga masih mengalami keterlambatan. Karna sekarang membeli tiket wajib dengan kartu identitas dan ada check in seperti di bandara, boleh lah kita pinjam istilah di bandara “delay”. Rasanya delay kereta hingga kini masih dimungkinkan terjadi terlebih bagi pengguna layanan kelas ekonomi. Alasannya klasik, harus mengalah dengan kereta kelas bisnis atau eksekutif. Tetapi setidaknya sedikit lebih baik dari jaman Iwan Fals saat menciptakan lagu “sampai stasiun kereta pukul setengah dua duduk aku menunggu tanya loket dan penjaga kereta tiba pukul berapa biasanya  kereta terlambat dua jam mungkin biasa dua jam cerita lama”

Demi Kenyamanan

Fasilitas charger android yang terletak di dinding gerbong ini cukup membantu untuk membunuh rasa bosan selama perjalanan ketika buku bacaan sudah tidak lagi bersahabat dengan keadaan. Scrol satu demi satu media sosial cukup membantu menghilangkan rasa bosan hingga teringat lah bahwa suasana gerbong ini dahulu tak begini.

Kira – kira di tahun 2011 hingga 2012 lalu, perjalanan kereta ekonomi ataupun eksekutif dari Surabaya ke Surakarta, setiap berhenti di stasiun besar Madiun, dari luar gerbong pasti akan terlihat banyak penjual nasi pecel khasnya dengan bungkus daun pisang seharga tiga ribu rupiah lengkap dengan peyeknya menghampiri penumpang.

Harus diakui memang pelayanan PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) sebagai BUMN operator tunggal di dunia perkeretaapian semakin canggih dan update. Ini dilakukan tidak lain untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya. Kenyamanan ini juga berbanding lurus dengan harga tiket, istilah jawanya “rego gowo rupo”.

Tidak hanya menaikan harga, PT. KAI juga mengatur bagaimana cara memanjakan dan menjaga keamanan penumpangnya salah satunya adalah dengan melarang pedagang masuk gerbong kereta yang sedang berjalan. Sebelum kebijakan ini diberlakukan, penumpang kereta api hampir setiap saat menerima tawaran baik barang ataupun jasa. Percaya atau tidak, selama perjalanan dari Surabaya ke Surakarta dulu tidak hanya penjual makanan dan minuman, ada yang menawarkan pijat, pengamen, buku teka teki silang, pewangi ruangan yang sekali semprot “sruut” mobile dengan pengharum ruangan botol kalengnya, bahkan cleaning service dadakanpun menyapu sampah disela – sela kursi penumpang maka tidak mengherankan jika saat ini masih ditemui penumpang yang gagal move on dari kebiasaan membuang bungkus makanan atau kacang di bawah kursi langsung.

Karena banyaknya orang mengais rejeki di gerbong, maka dahulu saat hendak naik kereta lebih baik membawa uang recehan koin. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. Bagi penumpang dengan kebiasaan ngopi sudah harus merogoh kantong lebih dalam karena harga segelas kopi di kereta api kini serasa membeli kopi di coffee shop kelas menengah kebawah oleh racikan tukang aduk kopi yang biasa disebut barista.

Harga segelas kopi di kereta sekarang naik, kira – kira tiga kali lipat dari penjual mijon, bukan karena inflasi atau mahalnya harga biji kopi tetapi karena biaya operasional membuat kopi lebih tinggi: cup kertas dengan tulisan RESKA, gaji pelayan yang rapi dengan rompinya, membawa kompor dan bahan makanan minuman ke atas gerbong dan biaya – biaya lainnya. Jadi kalau dahulu menyiapkan uang recehan koin sekarang baiknya membawa bekal makanan minuman sendiri agar irit selama perjalanan.

Dengan adanya restoran kereta, tidak ada lagi “barista” keliling dengan banyak pilihan kopi rentengannya. Para bos kecil ini sudah tidak dapat lagi membuka lapak kelilingnya di gerbong kereta api ekonomi, mereka terusir karena alasan menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang kereta api. Entahlah bagaimana keadaan mereka sekarang, bisa jadi mereka pindah lokasi untuk berdagang seperti naik turun bis atau di pinggir jalan.

Tenang ini bukan provokasi untuk melakukan ”aksi bela pedagang” atau boikot produk BUMN PT. KAI. Ini hanya ungkapan perasaan rindu pada masa lalu, tak berniat untuk kembali pada masa itu karena masa itu telah berlalu.

Dimuat di http://nuwobalak.com/merindukan-mijon/ 24 Februari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s