Oh, Selmadena

Selmadena Aquilla, kisah percintaan sosok wanita ini belakangan menyeramkan bagi “Mas – Mas bujangan yang sedang meniti karir dengan beban rindu menjalin percintaan ala long distance relationship”. Menyeramkan layaknya kekhawatiran sebagian golongan terhadap penyebaran paham Wahabi yang diduga akan berakibat pada pecahnya persatuan umat. Bisa – bisa para perempuan yang hanya memadu kasih melalui smart phone di malam minggu karena menjalani long distance relationship alias LDR mengikuti langkah Mbak Selma dengan meninggalkan kekasihnya demi kepastian untuk menikah.

Tetiba Mas – Mas bujangan mengetahui kisah Mbak Selma dengan baper menyanyikan lagu “Dinda apa kabar kau di sana Lelahkah menungguku berkelana Lelahkah menungguku kau di sana… Masih banyak yang harus kucari, tuk bahagiakan hidupmu nanti”

Menjalin hubungan LDR memang tidak mudah, sayapun pernah putus ditengah jalan. Bahkan pacar Saya yang dulu sekarang sudah punya anak, tapi ceritanya bukan seperti Mbak Selma ini. Kurang lebih posisinya sama, sama – sama sedang berusaha merealisasikan masa depan bedanya dengan Mas yang ditinggal Mbak Selma sudah di dunia kerja dan Saya di dunia pendidikan alias baru mau kuliah.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasa hancur leburnya hati “Masnya” ini ditinggal kekasih. Kalaupun saya jadi Masnya saya juga tidak mungkin menangis mengeluarkan air mata. Percuma saja, karena pasti nanti dibilang air mata buaya. Memang saya cenderung memilih merangkai perasaan melalui kata – kata daripada membeli rangkaian bunga, sudah keluar uang semalam layu pula.

Andai saja yang menikahi Mbak Selma ini duda, pastilah Mas pejuang LDR ini akan menyanyikan lagu Iwan Fals “Tapi kau kabur, dengan duda anak tiga… Hatiku hancur, berserakan berhamburan kayak jerohannya binatang”. Lagi – lagi lirik lagu Iwan Fals saya kutip untuk mendramatisir tulisan saya. Memang harus diakui lirik lagu Iwan Fals cocok di segala fenomena sosial di masyarakat.

Beragam Jenis

Alasan melakukan hubungan jarak jauh atau LDR diwarnai berbagai alasan, tetapi pada tulisan ini lebih menekankan pada keadaan terpaksa karena keinginan seorang pria untuk mewujudkan mimpinya baik di jenjang karir ataupun di dunia pendidikan. Selain beragam faktor penyebab LDR, juga ada beberapa jenis pria yang menjalani LDR secara umum.

Beryukurlah bagi kalian yang pasangannya memiliki sikap loyal, setiap waktu memberi kabar, setiap periode tertentu telepon dan bahkan melakukan video call, berbagi foto via media sosial, banyak waktu luangnya sehingga menjalani LDR tidak terlalu menjadi beban pikiran. Biasanya tipe – tipe pria seperti ini ibarat petugas SAR, cepat tanggap untuk melakukan apa saja demi kekasihnya. Kekasihnya menyampaikan rindu langsung ditelepon “halo sayang, kenapa sedih? Yaudah kan ada aku, sabar ya sayang. Aku juga kengen kamu”. Ada waktu luang langsung berangkat melintasi kota demi pujaan hati.

Tetapi sebaliknya, bagi kekasihnya yang menganggap dunianya seperti main game, kongkow bersama temannya, membaca atau menulis lebih menarik ketimbang bergelut dengan smart phone untuk melakukan telepon atau video call, memberi kabar melalui chat saja untung – untungan. Itu saja jika pasangannya yang mengawali chat.

Maksud hati ingin menanyakan perihal pekerjaannya, tetapi sayang bidang pekerjaan yang digeluti terbingkai etika profesi untuk menjaga rahasia pekerjaan. Alhasil, komunikasi dari chat garing dan hanya itu – itu saja. Sudah terpisah jarak tertimpa rindu pula. Kekasihnya bilang sakit, jawabannya realistis tanpa basa basi dan bisa ditebak “Ya udah, biasanya minum obat apa? Abis itu terus tidur, gak usah mainan hape nanti malah gak tidur – tidur”. Pupus sudah harapan si perempuan ingin diperhatikan dan dimanja – manja karena sakit.

Beri Kami Waktu

Sebagai advokat magang saya tergolong dari kaum Mas – Mas pejuang, saya merasakan betul bagaimana mengawali karir dari bawah, waktu tersita lebih banyak untuk adaptasi maupun keasikan di dunia baru. Paling tidak dua sampai tiga tahun baru bisa mengatakan cukup: cukup untuk bensin motor, cukup untuk sewa rumah, cukup untuk makan sederhana dan kecukupan lainnya.

Atau lain kisah seorang kawan yang saat ini berkarir di BUMN, setahun dua tahun masih terikat tidak boleh melakukan perkawinan karena masih training, belum lagi program tambahan bela negara pada periode tertentu yang mewajibkan tidak boleh membawa alat komunikasi selama program berjalan. Begitu pula dengan mereka di jalur entrepreneur, sebagian besar dapat dipastikan ia membutuhkan waktu setahun dua tahun sejak dimulai usahanya baru bisa mengatakan cukup.

Belajar dari Mbak Selma, kisah ini menyelipkan pesan kepada pria – pria pejuang LDR untuk melakukan evaluasi diri. Setidaknya mengingatkan kembali terhadap rencana hidupnya ke depan. Rasa was – was terkadang terbesit dalam pikiran tentang orang ketiga, apalagi mengetahui bahwa laki – laki itu memiliki bargaining position sehingga cukup membuat para pria pejuang LDR meningkatkan status dari siaga menjadi waspada. Ini juga salah satu ujian dari sekian banyak rintangan para pejuang LDR. Para pria pejuang LDR yang di luar terlihat garang dan pemberani itu hanyalah klise karena dibalik itu mereka ini adalah penakut. Penakut? Ya, takut kehilangan kekasihnya. Tetapi, tenanglah pria jantan! Apalah arti kegelisahanmu dari chat ucapan selamat pagi laki – lain jikalau kau memang selalu mengucap namanya di setiap sujud tahajudmu.

Dimuat di http://ayokelamtim.com/2017/03/16/oh-selmadena/ 16 Maret 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s