Setiap Manusia Bisa Berubah

Pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta lalu sudah usai, hasilnya masih kita tunggu tetapi sangat disayangkan media sosial masih saja banyak akun – akun yang nyinyir calon ini dan itu. Saya harus berpikir berulang kali ketika hendak menerbitkan tulisan yang menyinggung pilkada ini, karena isu yang “digoreng” cukup sensitif, yaitu agama dan etnis. Dan inilah tulisan pertama dari sekian lama menahan keinginan ini.

Karena ini Saya tujukan kepada mereka yang suka nyinyir, terutama yang mengatasnakana Islam maka Sayapun nyinyir dengan cara Saya.

Saya cukup risih dengan kalimat – kalimat “Dasar Cina” lah, “Kafir” lah atau apalah itu yang menyinggung takdir mutlak dari Tuhan. Kalaupun Saya bisa memilih saat dilahirkan, Saya akan memilih lahir dari orang tua yang suku dan ras yang kira – kira aman untuk hidup di suatu daerah. Kalau untuk kafir, Saya lebih nyaman dengan kata non muslim.

Seseorang fanatik itu boleh, tapi menggunakan akal sehat itu wajib. Sejak mengeluti dunia praktisi hukum sebagai advokat magang, Saya menyadari kalau setiap manusia itu berharga. Mengutip kalimat James Donovan advokat Amerika Serikat yang dahulu membela mata – mata Uni Soviet yang jelas – jelas akan merugikan negaranya. Poin pentingnya adalah yang kita benci sikapnya bukan orangnya.

Ketika dijabarkan lagi kenapa setiap manusia itu berharga? Karena mereka yang masih bernyawa diyakini masih bisa merubah sikapnya. Kalau kita berbicara tentang kisah heroik umat muslim, masih ingatkah Umar bin Khatab yang pernah deklarasi ingin membunuh Rosulullah? Sekarang tubuhya terbaring tepat berdampingan dengan Rosulullah, bahkan ketika ia mengucapkan kalimat syahadat seketika ia menantang lawan – lawannya yang tidak sejalan dengannya untuk berduel berhari – hari di Mekah. Masih belum meyakinkan? Khalid bin Walid sebelum menjadi Islam adalah panglima perang di Perang Uhud melawan Islam yang pada akhirnya ia menjadi Islam dan mendapat julukan sebagai pedang Allah.

Kenapa kalian tidak melihat sisi yang lain? Siapa tau orang yang sedang menjalani proses peradilan tetapi sudah kalian cap sebagai penista agama ini menangkap ini adalah sinyal ia untuk mendapatkan hidayah seperti kisah para sahabat Rosulullah itu? Coba didoakan. Kalau sikap kalian masih saja nyinyir, jangankan orang yang kalian cap sebagai penista agama dan orang – orang di sekitarnya, saudaramu seimanmu pun juga tidak akan simpatik dengan perilakumu.

Bagaimana dengan marah? Tentu boleh, tetapi tidak perlu berlarut larut. Serahkan pada negara untuk menegakan hukumnya. Masih ada kemaslahatan lebih besar untuk dijaga, yaitu kerukunan kehidupan umat beragama di negara Indonesia.

Lalu kenapa masih saja ada yang nyinyir? Sudah tidak ilmiah, sumber tidak jelas, provokatif, membuka aib bahkan cenderung fitnah. Toh juga calon pemimpin yang kalian yakini menjalankan keimanan kalian dari ayat suci Al – Qur’an hampir dipastikan menang. Toh juga kalian sudah menunjukan kekuatan loyalitas kalian pada aksi bela ini bela itu. Ditambah lagi aksi lanjutan, disaat yang lain terlelap tidur kalian menuju masjid menjalankan shalat shubuh berjamaah. Itu sudah cukup menggetarkan orang – orang yang kalian anggap kafir itu bos.

Saya meyakini kalian yang suka nyinyir itu hidup tentram tanpa gesekan dengan lingkungan dan keluarga karena semuanya seiman dan sependapat dengan kalian. Tetapi, ulah kalian itupun turut membuat semakin sulitnya saudara seiman kalian untuk mengajak anggota keluarganya menjalankan kehidupan syariah. Kalian mungkin tidak mengalami sedihnya seorang anak yang mengajak ayahnya seorang mualaf menjalankan rukun Islam hanya karena tidak simpatik dengan ulah kalian, akhirnya ajakan shalat itu hanya direspon dengan “Yang penting aku berbuat baik tidak menyakiti orang lain dan mencari nafkah untuk kelurga itu sudah ibadah”.

Atau kisah lain, seorang teman yang jelas – jelas muslim tapi terjerat hutang dan kredit riba. Suatu ketika hendak menasehatinya malah tidak simpatik. Ketika ditanya malah menjawab “kamu kok berubah? Tidak seperti yang dulu, jangan lah kecuci otakmu, jadi Islam biasa aja”.

Menghadapi orang – orang seperti ini tidak bisa hanya dengan dalil ayat suci atau hadits, tetapi dibalut dengan penyampaian kelembutan dan doa. Kalau cuma hanya mengandalkan dalil, ah sepertinya antum harus sering ke majelis ilmu untuk mengolah penyampaian ayat suci ke orang awam.

Memang, masih ada kesempatan mengantarkan orang tua kita ke surga dari doa anaknya yang sholeh. Tapi apakah ada jaminan ketika kesholehan seorang anak hari ini akan tetap istiqomah (konsisten) sampai akhir hidupnya? Bukankan Allah maha pembolak balik hati manusia ciptaannya? Sudah jelas kisah Umar bin Khatab, Khalid bin Walid dan kisah sahabat Rosulullah lainnya menunjukan keagungan Allah atas hati manusia ciptaannya, yang dulunya melawan Islam bisa menjadi sholeh luar biasa dan tidak menutup kemungkinan sebaliknya, manusia yang dulunya sholeh luar biasa tiba – tiba menjadi ahli maksiat.

Sayangnya momentum dugaan penistaan agama dan pilkada ini tidak dimanfaatkan sebagai ladang dakwah yang bijak. Kalau kalian cermat, ini adalah sebuah kesempatan untuk menunjukan bagaimana umat Islam itu harusnya bersikap dengan lembut dan penuh kasih sayang sehingga melahirkan sikap simpatik dari masyarakat luas. Dari sikap itulah tidak menutup kemungkinan akan melahirkan saudara baru seiman dengan kita. Dan akhir kata, selamat hari Jumat, hari dimana salah satu waktu yang baik untuk berdoa. Doakan saudaramu ini agar tetap berada di jalur keimanan yang benar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s