Mahalnya Sebuah Hidayah

Pernah ada siswa SMA menentang kebijakan kepala sekolahnya yang setiap pagi mengaji di speaker sekolah, ia mengirimkan pesan melalui e-mail agar kepala sekolahnya menghentikan kegiatan mengaji itu karena status sekolah negeri bukan sekolah islam. Ultimatumnya meminta kepala sekolah menyediakan ruangan bagi siswa non muslim jika tetap mengaji atau mengganti kegiatan mengaji dengan memutar lagu nasional. Siswa ini malah menantang dengan mengancam akan merusak speaker karena tawarannya tidak direalisasikan.

Cerita lain pernah dialami ketika ia berseberangan pandangan dengan guru agamanya, gurunya tidak terima dan mengancam tidak akan memberikan nilai. Maka jawabannya sederhana: pindah agama. Baginya saat itu agama tidak lain hanya mata pelajaran yang mengantarkan pada kelulusan skolah. Semakin ditekan semakin menjadi. Suatu hari ada suatu kegiatan pondok ramadan dimana mewajibkan pesertanya untuk shalat sunah dhuha, karena merasa dipaksa dikencingi lah tempat wudhu masjid sekolah dan menantang panitia untuk duel.

Dia bukan anti dengan kegiatan keagamaan tapi ia merasa tidak nyaman dengan kegiatan yang menonjolkan pemaksaan terhadap kaum minoritas. Dia merasa bukan manusia beruntung yang lahir di tengah keluarga fanatik yang kental di satu agama dan gelap mata terhadap prestasi orang non-muslim.

Pada jenjang perguruan tinggi, kampusnya menerapkan pendampingan atau asistensi agama islam. Baru beberapa hari selesai ospek malah menantang duel seniornya yang melakukan screening, baginya screening itu tidak lebih mencari bibit mahasiswa labil untuk dijadikan senior berjidat hitam itu sebagai kader islam fanatik afiliasi FPI dan teroris. Hingga pada akhirnya ia dipertemukan dengan mentor – mentor agama islam pembimbingnya.

Status sebagai mahasiswa rantau dan jauh dari pengawasan orang tua membangkitkan gairahnya untuk mencoba hal baru sampai pada suatu hari ia “terjebak” pada kegiatan pelatihan mitigasi bencana yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Layaknya petualang, ia hanya membawa celana kargo pendek, tas ransel dan sandal gunung pinjaman seorang teman.

Alangkah kagetnya ketika hendak berangkat malah bersama dengan manusia – manusia “aneh”: bis dipisah laki – laki dan perempuan, perempuan kerundung lebar, laki – laki celana cingkrang, ada adzan langsung solat, waktu longgar untuk mengaji, tengah malam bangun untuk tahajud, laki – laki buang air kecil jongkok.

Waktu masuk shubuh dibangunkan untuk shalat bersama, ia melanjutkan tidur dan beralasan tidak membawa sarung. Tapi ia terheran dengan manusia – manusia ini yang rela meminjamkan sarung dan sarana lainnya agar ia mau beribadah. Bingung dan linglung harus bertahan kurang lebih selama empat hari ala koboi, tanpa membawa peralatan untuk ibadah. Ditambah lagi para peserta menggunakan kalimat asing “Akhi, Ukhti, Antum, Ana, Afwan” dan istilah lainnya. Saat itu marahpun percuma, mau pulangpun kondisi di tengah hutan dan harus menggunakan angkutan umum yang tidak tiap waktu bisa diakses, terpaksa lah harus mengikuti rangkaian acara sampai selesai.

Saat santai coba gabung berdiskusi dengan peserta lain, obrolannya tentang sahabat Nabi. Ia ditanya “Sahabat Nabi yang Antum jadikan panutan siapa?”, “Jancuk” katanya dalam hati. Jangankan sahabat Nabi, cerita Nabi saja tidak banyak tahu. Mereka kaget “Antum muslim?”, “Ya, tapi saya gak ngerti obrolan kalian, hidup kalian, cara ibadah kalian, kalian ini apa – apaan? Pengetahuan agama saya tidak sebanyak kalian” jawabnya. Mereka terdiam sejenak, perlahan mereka mengajak bagaimana menjadi muslim sejati. Mulailah diajari cara shalat, doa sehari – hari dan sunah lainnya.

Selesai kegiatan, ia menceritakan pengalamannya pada mentornya. Mentornya hanya tertawa, sepertinya ia tau treatment khusus untuknya. Dari sinilah titik balik hidupnya dimulai “Sudah tercebur, basah sekalian saja renang”.

Sejuk dan Menyejukan

Anak SMA yang sekarang sudah lulus kuliah itu adalah saya sendiri. Kini perilaku jahiliyah itu sudah berbalik. Dulu saat menjadi pengurus OSIS, jangankan belajar agama, rencana kegiatan bernuansa agama saja ditolak mentah – mentah. Perlahan mentor – mentornya semasa di kuliah mengikis rasa anti terhadap agama. Bisa jadi ini doa baik dari anak SKI yang dahulu pernah saya buang proposalnya dan orang – orang lainnya yang pernah berkonfrontasi dengan saya. Sungguh mulia sekali orang – orang ini jika memang benar demikian. Semoga Allah melindungi kalian.

Saat ini saya bukan Hafiz Qur’an apalagi ahli kitab yang bisa mengutip ayat – ayat suci, dari pengalaman pribadi, saya memiliki keyakinan bahwa agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan perdamaian antar umat manusia. Setelah kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Saudara Ahok, bertebaran posting-an baik meme atau kalimat bernuansa nyinyir. Fanatik boleh, tapi meggunakan akal sehat itu wajib. Disinilah saya merasa beruntung karena berlatar belakang ilmu hukum dan pernah berada di zona memisahkan antara agama dan kehidupan dunia (liberal) karena saya bisa memandang dari dua sudut pandang berbeda sehingga bisa menentukan sikap kepada siapa yang sedang dihadapi.

Menjadi manusia beragama harusnya menjadikan kehidupan kita damai satu sama lain, bukan malah dengan mudahnya memprovokasi antar umat manusia, terlebih lagi terhadap seruan bernada negatif. Manusia – manusia rusuh ini sepertinya hatinya belum damai. Pantaslah sahabat saya di Malang yang hendak berjuang di tingkat lanjut organisasinya, menuliskan “sebelum kita menghendaki perdamaian bersama, diri kita sendiri harus damai terlebih dahulu”

Dari perdamaiannya itu maka akan menciptakan suasana kehidupan di masyarakat sejuk dan menyejukan. Tulisan ini juga sebagai pembelaan saya terhadap agama saya, bahwa agama saya tidak seburuk kelakuan ormas – ormas itu. Manusia berubah menjadi lebih baik karena kasih dan doa, bukan karena gerombolan dengan pentungan dan hoax.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s