Sehari di Sekolah

Pemerintah pada keterangan yang disampaikan kepada media menyatakan saat ini masih merumuskan bagaimana idealnya program full day school. Harapannya full day school dilaksanakan sebagai sarana pendidikan penguatan karakter. Saran menunda program full day school muncul dari berbagai kalangan salah satunya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Jauh sebelum adanya ide full day school, saya dan seluruh siswa di SMAN 4 Surabaya di tahun 2008 – 2011 sudah pernah menikmati enak tidaknya suatu sistem bernama full day school. Maka setidaknya saya dapat bercerita bagaimana saya dulu sekolah dengan model full day school dengan bumbu kenakalan seorang siswa SMA di jaman itu.

Kepala sekolah saya dulu bernama Bapak Darmadji, gelar lengkapnya Drs. Sudarmadji, S.H, M. Ed, seorang kepala sekolah yang pernah merasakan nikmatnya kuliah di Australia. Terkenal dengan slogannya PAIKEM, sebuah singkatan yang selalu diulang – ulang ketika memberi sambutan dan sekarang saya lupa apa arti singkatan itu.

Semasa kepemimpinannnya, siswa binaannya juga pernah mengalami namanya moving class, sistem dimana setiap ganti jam pelajaran maka siswa pindah kelas menuju kelas tertentu untuk melanjutkan pelajaran. Nah masa – masa ini sering ditemui barang ketinggalan, termasuk tempat makan tupperware.

Alasan klasik diadakannya full day school adalah tidak lain untuk memaksimalkan kegiatan belajar di sekolah, sedangkan kegiatan ekstrakurikuler fokus di hari sabtu. Sedangkan siswa yang tidak mengikuti ekstrakurikuler, maka hari sabtunya digunakan untuk refreshing: jalan – jalan, kongkow, main PS, bahkan memadu kasih.

Konon katanya full day school diselenggarakan untuk menghindarkan kegiatan negatif di luar sekolah. Salah satu produk dari full day school contohnya adalah saya, siswa yang biasa – biasa saja dan mungkin tergolong cupu: dasi selalu terpasang, nilai pas – pasan, tugas dikerjakan kadang tidak, berangkat on time kadang juga terlambat, mengejar cintapun sering tapi tak pernah dapat. Tapi perlu diingat, ini adalah klaim sepihak diri saya.

Membunuh Kebosanan

Setiap kebijakan akan ada hal baik dan buruk di dalamnya. Hal baik dari adanya kebijakan full day school tidak lain adalah memastikan siswa belajar dibawah bimbingan lembaga formal bernama sekolah. Kalau ditanya bosan atau tidak jawabannya adalah iya membosankan. Dari kebosanan itu muncul ide – ide nakal untuk membunuh kebosanan dengan cara apapun.

Dari delapan jam hidup di sekolah, seragam saya masih terjaga rapi dengan dasi yang mengikat di leher. Kalau sudah diatas jam 12 atau belajar setelah jam istirahat kedua, datanglah tamu tak diundang, yaitu mengantuk. Alhasil, materi yang disampaikan oleh Bapak atau Ibu guru terasa sebagai dongeng pengantar tidur siang. Ah, tapi ini persepsi dari murid yang biasa – biasa saja, mungkin murid yang tidak setipe dengan saya memiliki testimoni lain.

Kira – kira saat kelas 11 atau 12 (tahun 2010 – 2011) sedang tren permainan finger board, sebuah permainan skate board mini yang dimainkan dengan jari telunjuk dan jari tengah. Jadi tak heran saat itu sering terdengar suara “klotak” karena benturan antara finger board dengan meja sekolah. Permainan ini bukan permainan yang membutuhkan lebih dari satu orang seperti dakon, tetapi karena sifatnya adalah skil maka biasanya kita saling berbagi trik. Selain suara klotak, kadang juga terdengan kata “jancuk!”, sebuah ungkapan persahabatan khas arek Suroboyo di ketika gagal melakukan trik.

Repotnya adalah ketika sudah bosan memainkan finger board, atau finger board diamankan sementara oleh Bapak atau Ibu guru. Pilihan lainnya adalah obrolan liar, topik pembahasannyapun liar, sama sekali tidak membahas pelajaran. Ya normalnya kehidupan siswa di eranya.

Pendidikan Tidak Hanya di Kelas

Kalau menemui banyak siswa yang membolos itu karena seharian di kelas sungguh membosankan,  kebosanan ini harus diwadahi dengan kegiatan penunjang lainnya. Inilah yang mestinya dipikirkan dan dievaluasi, bukan malah dibatasi gerak – geriknya dengan belajar penuh di kelas. Masing – masing dari kita memiliki potensi, tidak semuanya menuju pada satu profesi dan pekerjaan tertentu yang hanya dipelajari di kelas.

Pengalaman mengajarkan saya kalau ilmu tidak murni seluruhnya didapatkan di kelas. Diajarkan mengarang bebas tapi masih malu untuk presentasi, diajarkan juga bagaimana saling menghargai tapi temannya presentasi juga tidak dihiraukan, padahal masih sama – sama di kelas. Apakah lomba baris berbaris diajarkan di kelas? Tidak, latihannya di lapangan. Apakah di kelas diajarkan bagaimana bangkit menerima kekalahan saat berkompetisi dengan orang asing? Tidak, selama di kelas kita hanya berkompetisi mendapatkan nilai dengan teman kita sendiri, bukan orang asing yang baru kita kenal saat berkompetisi.

Selain belajar di kelas, seorang siswa juga butuh sarana pengembangan potensi lain di luar kelas: organisasi, ektrakurikuler, lomba, pengenalan atau sosialisasi oleh lembaga tertentu. Inilah penyeimbang potensi diri antara akademik dan non akademik. Lebih jauh ilmu di luar kelas mendidik skil kita menghadapi dunia.

Tidak berhenti disini, masih ada ancaman lain, yaitu gadget. Semua informasi baik dari dalam maupun luar negeri cepat tersebar, terutama gaya hidup. Jangan sampai generasi emas kita nantinya malah mengalami krisis identitas dan malah menjadi followers Awkarin. Hal – hal seperti ini yang harusnya menjadi perhatian pemangku kepentingan untuk dipikirkan bersama. Kira – kira pola seperti apa yang sekolah berikan untuk pendidikan karakter. Semoga kedepannya rencana program full day school dapat mengakomodir seluruh kebutuhan pendidikan anak bangsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s