Sehari di Sekolah

Pemerintah pada keterangan yang disampaikan kepada media menyatakan saat ini masih merumuskan bagaimana idealnya program full day school. Harapannya full day school dilaksanakan sebagai sarana pendidikan penguatan karakter. Saran menunda program full day school muncul dari berbagai kalangan salah satunya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Jauh sebelum adanya ide full day school, saya dan seluruh siswa di SMAN 4 Surabaya di tahun 2008 – 2011 sudah pernah menikmati enak tidaknya suatu sistem bernama full day school. Maka setidaknya saya dapat bercerita bagaimana saya dulu sekolah dengan model full day school dengan bumbu kenakalan seorang siswa SMA di jaman itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Mahalnya Sebuah Hidayah

Pernah ada siswa SMA menentang kebijakan kepala sekolahnya yang setiap pagi mengaji di speaker sekolah, ia mengirimkan pesan melalui e-mail agar kepala sekolahnya menghentikan kegiatan mengaji itu karena status sekolah negeri bukan sekolah islam. Ultimatumnya meminta kepala sekolah menyediakan ruangan bagi siswa non muslim jika tetap mengaji atau mengganti kegiatan mengaji dengan memutar lagu nasional. Siswa ini malah menantang dengan mengancam akan merusak speaker karena tawarannya tidak direalisasikan.

Cerita lain pernah dialami ketika ia berseberangan pandangan dengan guru agamanya, gurunya tidak terima dan mengancam tidak akan memberikan nilai. Maka jawabannya sederhana: pindah agama. Baginya saat itu agama tidak lain hanya mata pelajaran yang mengantarkan pada kelulusan skolah. Semakin ditekan semakin menjadi. Suatu hari ada suatu kegiatan pondok ramadan dimana mewajibkan pesertanya untuk shalat sunah dhuha, karena merasa dipaksa dikencingi lah tempat wudhu masjid sekolah dan menantang panitia untuk duel. Baca lebih lanjut

Setiap Manusia Bisa Berubah

Pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta lalu sudah usai, hasilnya masih kita tunggu tetapi sangat disayangkan media sosial masih saja banyak akun – akun yang nyinyir calon ini dan itu. Saya harus berpikir berulang kali ketika hendak menerbitkan tulisan yang menyinggung pilkada ini, karena isu yang “digoreng” cukup sensitif, yaitu agama dan etnis. Dan inilah tulisan pertama dari sekian lama menahan keinginan ini.

Karena ini Saya tujukan kepada mereka yang suka nyinyir, terutama yang mengatasnakana Islam maka Sayapun nyinyir dengan cara Saya.

Saya cukup risih dengan kalimat – kalimat “Dasar Cina” lah, “Kafir” lah atau apalah itu yang menyinggung takdir mutlak dari Tuhan. Kalaupun Saya bisa memilih saat dilahirkan, Saya akan memilih lahir dari orang tua yang suku dan ras yang kira – kira aman untuk hidup di suatu daerah. Kalau untuk kafir, Saya lebih nyaman dengan kata non muslim. Baca lebih lanjut

Oh, Selmadena

Selmadena Aquilla, kisah percintaan sosok wanita ini belakangan menyeramkan bagi “Mas – Mas bujangan yang sedang meniti karir dengan beban rindu menjalin percintaan ala long distance relationship”. Menyeramkan layaknya kekhawatiran sebagian golongan terhadap penyebaran paham Wahabi yang diduga akan berakibat pada pecahnya persatuan umat. Bisa – bisa para perempuan yang hanya memadu kasih melalui smart phone di malam minggu karena menjalani long distance relationship alias LDR mengikuti langkah Mbak Selma dengan meninggalkan kekasihnya demi kepastian untuk menikah.

Tetiba Mas – Mas bujangan mengetahui kisah Mbak Selma dengan baper menyanyikan lagu “Dinda apa kabar kau di sana Lelahkah menungguku berkelana Lelahkah menungguku kau di sana… Masih banyak yang harus kucari, tuk bahagiakan hidupmu nanti” Baca lebih lanjut

Merindukan Mijon

Awal tahun 2017 ini masyarakat Indonesia harus mengeluarkan dana lebih untuk pengurusan STNK dan BPKB baru kendaraan pribadinya. Tidak hanya STNK dan BPKB saja, tetapi juga harga cabe, dan bahan bakar minyak non-subsidi. Bahkan kabarnya tarif dasar listrik 900 VA subsidinya dicabut. Bukan tarifnya yang naik tapi ganti harga. Namanya juga tahun baru, tarifnya juga ganti baru. Sampai – sampai mahasiswa melakukan aksi menunjukan ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah.

Sebelum naiknya harga – harga komoditas tersebut, harga tiket kereta api sudah naik diiringi dengan kopi cup kecilnya yang terbuat dari kertas. Kini sudah tidak ada lagi pengusaha perorangan Ibu – ibu dan Bapak – bapak dengan dialek khasnya berteriak “Mijon mijon (mizone) teh anget, kopi, energen anget anget (hangat)”. Sudah tidak ada lagi penjual mijon, penjualnya sekarang korporasi besar yang tidak lain anak perusahaan dari operator kereta api, PT. Reska Multi Usaha. Baca lebih lanjut

Kembali Ke Nahdliyin

Beberapa hari lalu Saya kembali mengunjungi kota dimana Saya banyak belajar dan diajari oleh orang – orang yang Saya kenal. Kebetulan Saya mendapatkan dua undangan perkawinan kawan Saya. Tetiba Saya di stasiun Purwosari, Saya bertemu dengan orang baru. Obrolan basa basi menjadi pengantar keakraban sampai pada satu pembahasan dimana Saya mengaku bahwa pernah kuliah di ilmu hukum Universitas Sebelas Maret (UNS).

Obrolan semakin serius membahas dunia mahasiswa saat menyebutkan nama sahabatnya Bahar Sani, saat ini menjabat Ketua PMII Surakarta yang juga dalam hal tertentu memanggil Saya dengan sebutan “Sahabat Yogo”. Rupanya lawan bicara Saya ini bernama Susilo yang tak lain juga salah seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau biasa disebut PMII. Susilo menceritakan profil serta ketenaran Bahar baik diluar maupun di kampus, sampai pada akhirnya dia penasaran dengan Saya. Singkat saja saja jawaban Saya “jenengku Prayogo Mas, arek Suroboyo. Kon takok ae nang Bahar sopo aku (namaku Prayogo Mas, orang Surabaya. Kamu tanya saja ke Bahar siapa saya)”. Baca lebih lanjut

Menyelesaikan Sengketa Konsumen

Mualimin Abdi menggugat sebuah jasa laundry karena diduga mengakibatkan jas miliknya tidak dapat digunakan dan kurang rapi setelah menggunakan layanan jasa laundry di dekat kantornya. Secara umum, gugatan adalah tindakan yang merupakan hak setiap warga negara bilamana kepentingan privat-nya dilanggar.

Gugatan perdata yang diajukan ke pengadilan negeri adalah salah satu upaya hukum yang ditempuh untuk mendapatkan ganti rugi dari tergugat (orang yang digugat) secara sah dan legal menurut hukum. Baca lebih lanjut